Pengalaman berkunjung ke Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri

Beberapa hari yang lalu aku harus kesana kemari mengantar teman yang ingin menggunggat cerai suaminya. Loh kenapa bisa?Pasti  banyak dari teman-teman ingin mengetahui kasusnya seperti apa. Pernah mendengar KDRT khan? Yah begitulah kasus yang sedang aku bantu saat ini. Suaminya mempunyai sikap yang temperamen,sering berkata kasar dan sering melecehkan harga diri temanku ini. Perbuatan ini dilakukan bahkan di depan anak-anaknya. Apa coba yang dipikirkan si anak jika ibunya ditendang,dimaki-maki dan dilecehkan didepannya. Dipukul sampai terlihat memar-memar,dipukul dengan helm. Hal ini sudah berlangsung lama. Saat ini anak temanku ini, sebut saja “R”, anak pertama kelas 3 SMP dan anak kedua duduk di SMP kelas 2. Si R pernah bercerita juga kalau pernah ditendang suaminya waktu hamil tua anak kedua. Bayangkan bagaimana kondisi R….Lihat ibu yang lagi hamil tua berjalan sendirian ke pasar aja sudah kasihan melihatnya, apalagi ada wanita hamil tua di tendang oleh suaminya sendiri. Dan banyak hal lain yang lebih miris dilakukan oleh sang suami yang tidak pantas aku ceritakan di sini.

Sebenarnya profesiku di sini bukan pengacara ataupun advokat tapi hanya membantu. Dan aku belum paham benar bagaimana supaya proses menggunggat cerai ke pengadilan sampai sidang biar cepat beres. Satu yang aku pikirkan mencari teman-teman yang berkecimpung di LBH. Masa kuliah dulu sih banyak kenalan advokat dan semacamnya,nah di malang ini tidak satupun aku mengenalnya. Di benakku yang penting calling-calling siapapun.

“R”, sudah mengajukan gugatan cerai kepada suaminya sejak tahun 2009, dan ini sudah diajukan ke pengadilan negeri malang. Suaminya juga sudah dilaporkan ke kepolisian (POLRESTA Malang), tetapi hal itu tidak berlanjut karena tuntutan dicabut kembali. Alasan utama adalah karena demi keutuhan rumah tangga dan juga anak-anaknya nantinya seperti apa. Teringat aku ketika mengikuti acara sosialisasi Undang-Undang Perlindungan wanita terhadap Kekerasan Rumah Tangga yang dilaksanakan di hotel kartika Solo waktu aku masih kuliah dulu……Banyak kasus yang ditangani oleh beberapa LBH mengenai hal ini. Ada yang suaminya bahkan sudah divonis bersalah kemudian dimasukin ke penjara terus si istri mencabut tuntutannya alasannya ada yang gak tega lihat suaminya di penjara, ada yang karena masih mencintai suaminya atau apalah…….huft.

Kembali ke kasus si R ini. Setelah ketemu dengan pengacara, aku dan R menemui orang-orang di LBH apa lupa namanya. Bercerita panjang lebar. Kemudian memasukkan berita ingin menggunggat cerai ke pengadilan agama. Eh ternyata di mana-mana sama ujung-ujungnya pake duit. Pihak penggunggat harus membayar 530 rb dulu baru bisa diproses. Padahal, R ini gak punya uang sepeserpun. Uang dipegang suaminya. Suaminya paham kalau R pegang uang pasti akan menggunggat cerai. Suami R ini gak mau cerai,alasan salah satunya adalah untuk teman tidur. Menurut kalian?

Setelah si R menceritakan panjang lebar petugas tetep aja gak mau menerima alasan apapun. Yang jelas kalau pihak penggunggat harus membayar dulu 530rb baru berkas bisa diajukan. Kalau memang gak bisa membayar harus minta surat keterangan tidak mampu ke pihak kelurahan setempat. Butuh proses yang panjang. Yah wanita menangis dulu bingung cari uang dari mana….

Akhirnya aku pinjami dulu uang 600rb untuk ngurus ini itu. Setelah itu masuklah ke ruangan pengetikan. Dapat kendala lagi di ruangan itu. Ternyata KTP yang dimiliki si R alamat yang tertera masih rumah yang lama dan jalan keluarnya adalah minta surat domisili dari RT dan kelurahan. Hayyah….

Satu lagi, kasus kekerasan untuk pelaporan harus segera dilaporkan ke Polsekta Dau sesuai dengan TKP atau apalah gak paham maksudnya. Yang jelas setiap Polsekta memiliki area masing-masing. Dan sebagai salah satu yang bisa dijadikan bukti adalah luka di dagu yang dipukul helm harus divisum dan bekas luka jangan sampai hilang.

Proses masih berlanjut sampai dengan tulisan ini aku posting.

Sehari kemudian aku berkunjung ke pengadilan negeri kepanjen. Tujuanku saat itu menemani teman yang ada urusan di panitera hukum pengadilan negeri kepanjen. Saat itu juga sedang berlangsung pengadilan cerai. Lah kok….akupun bingung. Ternyata kalau untuk non muslim ngurus perceraian itu bukan di pengadilan agama tapi di pengadilan negeri. Maklum aku memang agak gak ngoh masalah beginian dan ini merupakan pengalaman pertama.

Selama aku di pengadilan negeri ini banyak pengalaman yang bisa aku jadikan hikmah. Banyak hal janggal yang aku lihat juga di sini. Yang masih terlintas di ingatanku salah satunya adalah ketika melihat di kamar tahanan tempat tunggu para terdakwa yang akan menjalani sidang. Ada seorang laki-laki yang mengelus-elus perut istrinya yang sedang hamil besar/hamil tua sambil menangis. Aku jadi ikut meneteskan air mata.

Ya Allah lindungilah aku dan keluargaku dari semua ini. Jadikanlah keluargaku menjadi keluarga yang sakinah,mawadah warohmah. amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s