Archive | Maret 2012

Cerita Horor

         Membaca salah satu tret dari milis yang membahas obrolan horor, saya jadi ingin menceritakan sekelumit pengalaman hidup saya yang bisa membuat para pembaca merinding.  Cerita itu terjadi ketika saya  masih SMA kelas 1 dan semasa saya tinggal di solo.

         Pengalaman ini bermula pada tahun 1999 waktu saya mengikuti acara perkemahan untuk latihan dasar kepemimpinan (DIKLATSAR). Malam harinya ada salah seorang panitia perempuan yang pingsan, kemudian kemasukan jin alias kesurupan. Setelah acara selesai dan kegiatan belajar mengajar berlangsung  seperti biasanya.

         Tak diduga dan tak pernah disangka kesurupan (kemasukan jin) masih tetap berlangsung dan mengenai banyak siswa di sekolah saya secara bergantian. Jin yang merasuki teman-teman saya ini seperti berkeluarga dilihat dari apa yang dibicarakan teman-teman yang kerasukan ini. Tidak tanggung-tanggung seingat saya dulu ada lima orang setiap kali kerasukan. Kemudian lima orang ini pingsan dan beralih kelima orang yang lain. Terus dan terus berganti-ganti.  Hal ini berlangsung selama beberapa hari dan akhirnya kepala sekolah meliburkan kagiatan belajar di sekolah sampai keadaan sekolah kondusif lagi. Bahkan kejadian ini sempat membuat geger kota nganjuk dan banyak media yang meliput.

          Cerita berlanjut ketika saya  tinggal di lingkungan pondok pesantren modern yang berada di solo. Semasa kuliah dari awal saya sudah bekerja. Saya bekerja sebagai pengurus sekaligus penjaga di koperasi pondok pesantren itu dari jam 16:00 sampe dengan jam 22:00.

         Jadwal kuliah saya  pada semester pertama sangat padat dan di dalamnya ada tiga mata kuliah praktikum. Selesainya praktikum terkadang juga molor sampe maghrib, apalagi praktikum biologi yang mengamati proses pertumbuhan….butuh kesabaran ekstra untuk menganalisa. Belum lagi perjalanan dari kampus ke pondok yang memakan waktu hampir 40 menit, mulai dari naik bus kota dan berjalan kaki  dari jalan raya ke lingkungan ponpes.  Itulah terkadang yang membuat saya terlambat sampai ke pondok.

         Maka dari itu koperasi terkadang saya buka sampai lebih dari jam 10 malam. Sehabis bekerja saya baru bisa belajar dan menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan kuliah saya.

         Melihat padatnya jadwal keseharian saya, bisa dipastikan saya setiap hari tidur larut malam. Dan inilah cerita horor dimulai. Saking seringnya tidur larut malam, aku terbiasa di pondok mendengar suara suara aneh. Mulai dari suara orang masak, suara di kamar mandi, sampai ada suara orang perempuan yang ketawa cekikikan. Bisa dibilang saya nggak takut sama sekali mendengar hal-hal aneh seperti itu.

          Di pondok pesantren itu setiap ruangan yang berukuran sekitar 6 x 3 meter disekat jadi dua kamar. Kamar khusus untuk ustadz atau ustadzah dan sebelahnya untuk santri atau santriwati. Dan dihuni oleh lebih dari 10 orang. Kebayang nggak seperti apa tidurnya?

          Nah, salah satu teman sekamar bangun tidur langsung cerita sambil merasa ketakutan. Katanya waktu melipat mukena sehabis sholat malam, dia melihat ke cermin pada almari baju ada teman yang wajahnya bersimbah darah. Spontan dia melihat ke belakang, eh ternyata, teman yang dikira bersimbah darah itu sedang pules tidur.

          Setelah satu semester tinggal di pondok pesantren, saya memutuskan untuk kost di belakang pondok, dengan alasan bisa lebih leluasa untuk belajar meskipun tetap bekerja di pondok pesantren. Pertama sebulan kost di situ saya merasa enjoy dan biasa saja dan tidak ada yang ganjil di rumah itu walaupun kakak saya pernah bilang katanya cari kost kok singitlah atau auranya gak terang atau apalah. saya tetap menjalani hari-hari di kost itu dengan nyaman saja.

          Hingga suatu malam ada yang mengetuk pintu. Karena semua penghuni kost sudah tidur, pastinya saya donk yang membuka pintu tersebut. Setelah saya buka, ternyata gak ada satu orang pun yang nongol di depan pintu. Saya berpikir, mungkin orangnya sudah pergi karena kelamaan nunggu pintu dibuka. Saya-pun balik ke kamar. Baru aja menutup kamar, eh ada yang mengetuk pintu lagi. Saya bukain pintu lagi …  lagi-lagi nggak ada orang yang muncul. Balik ke kamar, saya lihat jam dinding ternyata sudah jam 1 malam lewat.

          Setelah beberapa bulan tinggal disitu baru teman kost yang sudah lebih dulu tinggal disitu cerita semua yang pernah terjadi  di rumah itu. Mulai dari yang punya sudah meninggal waktu masih hamil atau setelah melahirkan gitu…agak sedikit lupa ceritanya. Dan ruangan disebelah ruang keluarga yang dipakai anak-anak kost menonton TV ternyata adalah kamar yang punya rumah. Semua baju dan barang-barangnya masih ada di dalam kamar itu semua. Selama ini saya pikir itu gudang atau apa tapi kok di beri plaster atau isolasi di pintunya. Dan semakin banyak kejadian-kejadian yang aneh di kost itu.

         Sampai akhirnya saya pindah kost di belakang kampus UNS dan memutuskan untuk tidak bekerja di pondok pesantren lagi. Semua saya pertimbangkan demi kesehatan saya dan kuliah saya agar lebih efektif dan efisien. Tinggal di kost yang baru ini tidak bertambah aman ternyata. Bel pintu di kost  baru saya ini, setiap di atas jam 10 malam sering berbunyi sendiri tanpa ada yang membunyikan. Aneh nggak tuh?  Kata mbak kost sih sudah biasa itu terjadi, jadinya saya-pun mulai terbiasa dengan hal itu.

           Haripun terus berlalu. Suatu ketika saya terbangun saat teman satu kamar sedang sholat malam. Apa yang saya lihat saat itu sungguh pemandangan yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya. Dibelakang teman saya itu ada dua anak kecil yang dibelakangnya. Bagian kepala aja yang agak jelas, badan ke bawah nggak begitu jelas terlihat. Merem lagi aja….

            Di kost itu katanya mbak kost ternyata dulu pernah ditempati oleh none-none belanda gitu. Dan kamarnya ada di sebelah dimana meja telepon berada. Jadinya kalau lagi malam hari saya dapat telepon, jadi ngeri juga jawab telepon. Da setiap ada yang menginap di kamar itu nggak ada yang betah.

             Cerita berlanjut ketika saya diundang untuk bermalam di SMAN 5 Surakarta. Istilahnya mabit. Saya diserahi amanah untuk mentoring beberapa siswa di sana. Ketika duduk di luar ruangan, tiba-tiba seperti ada yang berjalan di belakang saya. Mak sruuut….merinding …

              Yang lebih ngeri lagi, rumah paling besar di belakang kampus UNS bangunan belanda yang digunakan sebagai tempat kost putra sering banget penduduk sekitar cerita kalau ada kejadian-kejadian aneh disitu. Mahasiswa yang ngekost di situ paling cuman bisa bertahan beberapa hari saja. Pernah juga diadakan pengajian bapak-bapak disitu. Hasilnya juga belum kelihatan. Sampai terakhir ada tim dunia lain dari Trans TV yang hostnya panca datang kesitu dan dijadikan tempat lokasi syuting.

Itu cerita saya, bagaimana dengan cerita anda?

Tips Untuk Menghilangkan Bintik-bintik Hitam Jamur Pada Kain

Mungkin banyak diantara kita merasa kesal melihat baju kesayangan atau handuk ada jamur bintik-bintik hitam.  Sudah dicuci berulang-ulang gak hilang juga. Bahkan direndam dengan detergen-pun gak ada efeknya sama sekali.  Noda jamur di kain atau baju atau handuk itu tetep aja nempel.

 

Bintik-bintik hitam jamur ini biasa terjadi pada kain yang dalam keadaan lembab. Mungkin habis kehujanan trus lupa mencucinya langsung, atau kelamaan dalam merendam cucian  sehingga bisa mengakibatkan timbul bintik-bintik hitam jamur.

Berikut tips yang bisa dicoba untuk menghilangkan bintik-bintik hitam jamur yang menempel pada kain,baju, kaos atau handuk.

  1. Rendam kain tersebut dalam larutan cuka dalam beberapa menit. Kira-kira 5 – 10 menit. Jika terlalu lama, bisa mengakibatkan  pakaian ada corak warna-warna kuning. Hal ini kemungkinan karena kandungan asamnya.
  2. Setelah itu, rendam kain tersebut dengan larutan deterjen dan air panas. Maksimal 30 menit.
  3. Lalu cuci kain tersebut dan bilas dengan air biasa.

Selamat mencoba .Noda tersebut mudah-mudahan akan hilang seketika. Mudah bukan?

Semoga bermanfaat. Salam sukses untuk anda yang membaca tulisan ini.

Masa Muda

Masa Muda.
Dua kata yang teramat dalam makna dan penuh dengan tanda tanya. Itu menurut saya pribadi. Bagaimana menurut anda?  Menurut banyak orang masa muda adalah masa dimana untuk foya-foya.  Ada sebagian orang yang mengatakan “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga”. Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya tanpa berbuat kebaikan, tanpa melakukan amal soleh bisa masuk surga ?.  Tentu ini adalah hal yang sangat mustahil.

Masa muda harus dilalui dengan kerja keras dan juga kerja cerdas jika ingin tua kaya raya. Hidup ini penuh perjuangan. Hidup harus dilalui dengan berkarya dan terus berkarya. Siapa yang ingin menuai hasilnya tentu  harus menanam terlebih dahulu.  Jika hasilnya ingin baik tentu harus menanam benih dengan baik.

Nasyid dari Edcoustic bisa menjadi inspirasi bagi anda yang suka dengan nasyid.

Masa muda usiaku kini
Warna hidup tinggal kupilih
Namun aku telah putuskan
Hidup diatas kebenaran
Reff :
Masa muda penuh karya untukMu Tuhan
Yang aku persembahkan sbagai insan beriman
Mumpung muda ku tak berhenti menapak cita
Menuju negeri syurga yang nun jauh disana
Kini jelas tiap langkahku
Illahi jadi tujuanku
Apapun yang aku lakukan
Islam slalu jadi pegangan

Dan maju mundurnya suatu negara juga bisa ditentukan dari anak muda dari negara tersebut. Bagaimana mungkin suatu negara bisa maju jika anak muda di negara tersebut hanya hidup dengan foya-foya saja tanpa berkarya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia.

Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)

Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)

Manfaatkanlah Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tuamu

Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.”

Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”

Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: “Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al Munawi mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Orang yang Beramal di Waktu Muda Akan Bermanfaat untuk Waktu Tuanya

Dalam surat At Tiin, Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin [95]: 4-6)

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)
Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Ibnu Katsir mengatakan, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)

Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan.

Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.

Daud Ath Tho’i mengatakan,

إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك

Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)

Semoga maksud kami dalam tulisan ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanyya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11]: 88)

Allah memberikan hak kepada hamba-Nya ingin surga ataukah neraka, dan semua telah diatur-Nya. Apakah masih ingin tetap foya-foya? Kemanakah masa mudamu akan Engkau habiskan? Hanya diri kita  sendiri yang bisa menjawabnya.
Semoga Allah selalu menuntun kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan jalan yang diridhoi-Nya.
Sumber:

Nantikanku Di Batas Waktu

Mungkin salah satu alternatif bagi yang masih suka menyanyi atau bersenandung yah dengerin nasyid. Selain bisa membuat hati tenang juga ada syair yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk muhasabah.
Salah satu nasyid yang dulu waktu masih saya kuliah adalah grup nasyid dari Edcoustic.
Ini salah satu nasyid yang dibawakan oleh Edcoustic.

Nantikanku di Batas Waktu
Album : Masa Muda
Munsyid : edCoustic
http://liriknasyid.com

Dikedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata

Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Reff :
Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang nanti
Kubawa kau pergi kesyurga abadi

Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku dibatas waktu

Lagu/lirik : Deden Supriadi

bang_irfan_gd(at)yahoo.com
Sumber http://Album edCoustic

Siti, Penjual Bakso….

Renungan dan Motivasi : Ifta Istiany Notes

SEKARANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK AFIKA, POLISI GANTENG ATAU DARSEM…
SEKARANG WAKTUNYA UNTUK
SITI, BOCAH PENJUAL BAKSO…

Sore kemarin – Selasa, 06 Maret 2012 – saya pulang kantor rada “tenggo”, jadi sampai di rumah jam 17.30-an, saya sempat nonton acara “Orang-Orang Pinggiran” di Trans7. Dada saya sesak menyaksikannya, air mata saya meleleh tanpa bisa ditahan, tak mampu berkata-kata. Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.

Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.

Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.

Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.

Baksooo…baksoooo…suara siti menawarkan baksonya..suaranya bikin hati yg mendengarnya bagai tersayat-sayat…
Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person (Pak Tono).

Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.

Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelamatkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.

Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.

Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.

Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran.

Semoga menyentuh hati nurani kita semua.

(Dikutip dari milis)

INFO TAMBAHAN :
Jika ada yang ingin langsung bertemu Siti, anda bisa menghubungi Pak Tono yang akan mengantar ke lokasi kampung Siti. No HP Pak Tono 0858 1378 8136, alamat lengkap : Kampung Cibobos 02/05, Desa Karangkamulyan, Kec. Cihara, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Kode pos 42391.

Semua kiriman paket, wesel, dll melalui Pak Tono, sebab Siti tidak bisa mengambil karena Ibunya tak punya KTP dan identitas diri lainnya sebagai bukti persyaratan pengambilan.

(info didapat dari milis yg memuat cerita ini, saya bantu meneruskan.. ^_^)
—————————
– Saatnya kita merenungkan, bersyukur & membuka pintu hati utk sebentuk kehidupan yg jauh kurang beruntung dr kita.
– Jika ingin berderma, sedikitpun sangat membantu, namun jika mampu, lebih baik memberikan “kail” daripada “ikan”-nya.

TAMBAHAN:
Jika ada yang ingin langsung bertemu Siti, anda bisa menghubungi Pak Tono yang akan mengantar ke lokasi kampung Siti. No HP Pak Tono 0858 1378 8136, alamat lengkap : Kampung Cibobos 02/05, Desa Karangkamulyan, Kec. Cihara, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Kode pos 42391.

Semua kiriman paket, wesel, dll melalui Pak Tono, sebab Siti tidak bisa mengambil karena Ibunya tak punya KTP dan identitas diri lainnya sebagai bukti persyaratan pengambilan.

Demikian info tambahannya.

(info didapat dari milis yg memuat cerita ini, saya bantu meneruskan dr note seorang sahabat.. ^_^)</p

Tulisan ini saya ambil dari https://www.facebook.com/pages/Renungan-dan-Motivasi-Ifta-Istiany-Notes/137365446278178
Semoga bermanfaat…

Hotel Ubud, Satu-satunya Hotel yang Bernuansa Bali di Jantung Kota Malang

Sehabis menemani anak-anak mengikuti acara “Smart Competition Kids”, saya bersama suami dan anak-anak langsung meluncur ke hotel ubud untuk datang ke acara kopdar bloggerngalam. Sesampainya di masjid As-salam di deket kampus ITN, kita muter-muter mencari lokasi hotel tersebut.

Lokasi hotel ini ternyata lumayan jauh dari jalan raya, tetapi gak susah juga nyarinya karena ada petunjuk jalan yang sengaja dibuat oleh pengelola hotel ini.

Tiba di depan hotel ubud kita bisa langsung mendapatkan nuansa Bali disitu. Dari sejak memasuki pintu gerbang, pernik-pernik di sekitar meja resepsionist yang ala Bali banget. Agar gak bingung nyari dimana temen-temen dari bloggerngalam kita nanya ke resepsionist di mana tempat acara dari bloggerngalam berlangsung. Dengan ramah salah satu dari petugas hotel memberi petunjuk ke ruangan yang dipakai untuk kopdar tersebut.

Kitapun segera menuju ke tempat acara kopdar bloggerngalam.Kita pikir acara sudah berlangsung. Ternyata baru beberapa orang saja yang sudah datang.

Melihat ada kolam renang di situ,anak-anak sudah gak tahan untuk segera menceburkan diri ke dalam kolam renang. Padahal acara belum dibuka tuh..

Mau apa lagi….nyebur tuh si Hana.

Setelah menunggu beberapa saat, dimulailah acara kopdar ini dengan dibuka oleh ketua bloggerngalam saat ini, Haqqi dengan dilanjutkan oleh sambutan dari general manager, Bpk Kuswadi Rawit. Beliau juga skaligus menceritakan secara singkat konsep yang diangkat oleh hotel ubud ini. Motto yang ditawarkan oleh pak Kuswadi dari hotel ubud ini adalah “The One hundred percent feature exotic ambience and nature Balinese in the heart of Malang”.

Memang sih, hotel di Malang dengan mengangkat kota bali sebagai konsepnya baru hotel Ubud ini. Jadinya gak salah kalau saat  ini, hotel Ubud-lah satu-satunya Hotel di Malang dengan konsep Budaya Bali yang exotic. Semua yang ada di hotel Ubud ini bernuansa budaya bali. Mulai dari bentuk bangunan, pernak-pernik, nama kamar, makanan dan musik yang senantiasa terdengar ketika memasuki hotel ini.

Tak lupa selain kita bisa melihat-lihat suasana di hotel ini, pihak hotel juga menyuguhi kita masakan khas dari hotel ini. Ada ayam betutu yang super pedas dan ajib, plecing kangkung, teh jahe atau semacam bajigur yang menghangatkan badan, kacang rebus, singkong goreng yang maknyos dan tahu goreng dengan bumbu petisnya yang gurih.

Sambil makan siang anggota bloggerngalam yang hadir kali ini berkenalan satu sama lain. Namanya juga sesama saudara seperjuangan kalau gak kenal mana bisa bersatu….bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.Bener khan?

Yang lain mana tuh nggak muncul…….

Ini loh foto-foto yang berhasil kita skrinsyut..