Memaknai Sekelumit Perjalanan Hidup

this way

Terkadang kita mungkin berpikir, kenapa saya mesti hidup seperti ini, mengapa saya harus sakit, mengapa saya harus tidak lulus tes itu, mengapa saya harus menikah dengan orang ini. Mengapa, kenapa, dan bagaimana mungkin saya menjalani ini semua….

Terkadang kita menginginkan hal itu tapi kenapa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kenapa dan mengapa?

Inilah yang namanya hidup. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah lebih tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Mungkin apa yang kita anggap baik untuk kita tapi menurut Allah itu tidak baik untuk kita.

Itulah yang ingin saya tulis kali ini. Ini adalah muhasabah yang saya tulis sebelum malam ini saya beristirahat.

Saya dulu adalah anak yang manja. Terutama kepada Bapak saya. Mungkin hal ini bukanlah hal yang aneh, karena saya adalah anak perempuan satu-satunya diantara tiga bersaudara. Kakak dan adik saya adalah laki-laki. Bapak saya dulu sering bekerja di luar kota. Sehingga jika pulang membawa oleh-oleh, pasti saya mendapat giliran pertama kali memilih oleh-oleh yang Bapak bawa. Dan hal itu berlangsung sampai saya lulus SMA. Bapak saya selalu memanjakan saya melebihi saudara saya yang lain.

Ketika saya kuliah saya harus tinggal berjauhan dari kedua orang tua saya. Teman-teman saya waktu kuliah, terutama sahabat saya, Intan pasti menganggap saya ini anak yang manja. Mulai dari perilaku dan cara bicara yang orang jawa mengatakan dengan sebutan “ngalem“.

Mulailah saya dengan memasuki dunia yang sebenarnya. Dunia yang harus saya hadapi dengan penuh perjuangan dan penuh tangis air mata. Begitu ada pengumuman bahwa saya lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), yang  sebenarnya tidak saya  inginkan, saya dimasukkan ke pondok pesantren oleh kakak saya dan disini harus mengenakan jilbab. Mulailah saya waktu itu dengan terpaksa  harus mengenakan jilbab. Sebenarnya jauh di lubuk hati saya, saya ingin kuliah di UNDIP bersama kakak kelas yang kebetulan kita dekat  sejak saya kelas satu SMA. Tetapi kenyataan mengatakan lain, saya dipaksa Bapak saya harus kuliah di UNS karena kakak saya juga alumni dari UNS dan tinggal di Solo. Alasan Bapak  agar saya ada yang menjaga dan mengawasi saya selama saya kuliah.

Sekitar satu bulan pertama selama tinggal di Pondok Pesantren saya sering menangis dan saya juga nggak pernah mau makan dari Pondok Pesantren itu. Saya jarang sekali makan. Hingga akhirnya saya terkena magg dan jatuh sakit. Setiap malam saya mengantri di Telepon umum di dalam Pondok Pesantren itu untuk bisa menghubungi kakak saya. Saya setiap hari hanya menangis ketika menelepon kakak saya dan mengatakan kalau saya tidak betah tinggal disitu.  Alasan saya saat itu karena tinggal di pondok tidak bisa bebas, penuh aturan, bedak saya sering hilang, baju ketat kesayangan saya hilang, celana jeans hilang dan lain-lain yang menurut saya waktu itu tidak nyaman bagi saya.

Berlanjut ketika saya pindah ngekost di sekitar kampus UNS. Saya sering banget sakit atau bisa dibilang sakit-sakit-an. Entah itu karena penyakit bawaan yang sering sesak nafas, pernah karena kecelakaan waktu OSPEK, kecelakaan karena tabrak lari sampai masuk koran dan sebagainya yang membuat saya terus mengeluh.

Setelah menikah saya juga pernah merasakan hampir tiga hari saya tidak makan sama sekali dan hanya bisa minum teh. Karena waktu itu suami benar-benar tidak mempunyai uang. Saat itu-pun saya tengah hamil. Ketika pergi kemana-pun kita hanya bisa jalan kaki.

Berpindah ke Malang, karena suami ternyata harus dipindah oleh Boss nya untuk bekerja di kantor Malang. Tinggal di rumah kontrakan di lantai atas. Lantai bawah ditempati oleh yang punya rumah.  Anak saya pindah ke Malang saat itu baru berusia hampir tiga bulan. Beberapa bulan kemudian saya ternyata hampir lagi. Mengetahui hal ini saya hanya bisa menangis mengapa saya harus hamil lagi, padahal anak saya masih bayi, belum bisa apa-apa, masih saya gendong. Kesedihan saya terus bertambah sewaktu masak. Karena dapur di lantai satu bebarengan dengan pemilik rumah.  Saya harus naik turun tangga dan menggendong anak saya jika ingin memasak.

Mungkin karena tenaga saya yang terus terforsir dan kecapekan saya  dilarikan di Rumah Sakit untuk ditangani Dokter. Setelah diberi penjelasa oleh Dokter kalau ternyata saya sudah pembukaan 1.  Kalaupun saat itu harus melahirkan jelas hal yang mustahil, karena berat bayi baru 0,75 Kg. Saya harus bedrest dan harus menjalani rawat inap di Rumah sakit sampai kondisi benar-benar memungkinkan. Bagaimana nasib anak saya? Siapa yang akan merawatnya? Suami juga harus tetap bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang paksa. Dengan oleh-oleh obat yang harus dimasukkan dari (maaf bagian belakang /anus). Yang masyaAllah sakitnya luar biasa. Itu dilakukan agar kandungan tidak sakit seperti bayi kontraksi mau keluar.

Dan waktupun terus berjalan. Sekarang alhamdulillah kehidupan saya dan suami jauh lebih baik dari semua yang saya ceritakan di atas.

Ibrah yang bisa saya petik selama perjalanan hidup saya sebelum saya menulis kisah ini :

1. Mungkin kalau ayah saya tidak memaksa saya untuk kuliah di SOLO (UNS) saya tidak tahu apa yang bisa saya dapatkan sekarang. Mungkin saja kehidupan saya bisa menyimpang dari kehidupan islami yang bisa saya rasakan sekarang.

2. JIka kakak saya tidak memaksa saya untuk tinggal di Pondok pesantren saya mungkin tidak mengenal hijab atau mungkin saya tidak mengenakan jilbab.  Seperti apa yang sudah Allah perintahkan, dan hendaknya semua wanita muslim mengulurkan jilbabnya. Artinya semua wanita yang mengaku umat muslim seharusnya lah memakai jilbab.

3. Di pondok Pesantren inilah saya bisa mengenal islam lebih baik., juga perbedaan dalam masalah khilafiyah islam. Di sini saya juga mengenal yang namanya kemandirian, kesederhanaan, dan kebersamaan.

4. Saya sering sakit saat kuliah, mungkin Allah ingin mengajarkan saya  agar bisa mensyukuri yang namanya sehat. Sehat itu adalah nikmat yang tidak bisa bisa kita hitung. Saya sering teringat kita tiba-tiba terbangun di Rumah Sakit dengan selang oksigen, dimana oksigen di Rumah Sakit sangat mahal harganya. Bersyukurlah kita masih bisa bernafas dengan gratis.

5. Ketika saya tinggal di Surabaya dan pernah tidak makan sama sekali dan hanya minum saja, itulah ujian dari Allah. Allah mungkin ingin menunjukkan Kuasa-Nya dan kasih sayang-Nya. Hamba Allah tidak akan mati sebelum habis rejekinya. Allah akan memberikan rizki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Asalkan hamba Allah itu mau bertawakal dan berikhtiar.

6. Dengan melewati semua ini, saya bisa lebih tegar, lebih mandiri dan bisa lebih memaknai arti dari hidup.

Mungkin inilah cara Allah untuk menjadikan saya menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Dan dengan pertolongan Allah semata saya bisa melalui semua ini.

Semoga sedikit cerita saya bisa menginspirasi banyak orang. Yakinlah hidup itu akan indah dan bermakna jika kita bisa memaknainya dan bisa melewati semua ujian hidup ini dengan sabar,  berikhtiar dan bertawakal.

Itu cerita saya, bagaimana dengan anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s