Archive | Juli 2012

Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan

Metode-metode yang digunakan untuk menentukan masuknya awal Ramadhan,yaitu:

1. Metode Rukyat Hilal (dengan melihat hilal), dan bila hilal terhalang sehingga tidak terlihat pada saat dilakukan rukyah, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari.

Makna Hilal


Hilal adalah bulan sabit yang menjadi acuan pergantian bulan hijriyah. Hilal terbit di ufuk barat setelah tenggelamnya matahari. Hilal ini sangat tipis, sehingga sulit dilihat (bagi yang belum terbiasa melihat) dengan mata telanjang. Hilal akan terlihat 50 di atas ufuk setelah terjadinya ijtima’ (matahari, bumi dan bulan terletak dalam satu garis) yang biasa disebut dengan konjungsi atau bulan mati. Jarak waktu antara peristiwa konjungsi sampai dengan naiknya bulan pada posisi 50 adalah ± 2 jam. Hilal biasanya tidak lama berada di atas ufuk, sehingga orang-orang yang melakukan rukyat itu mengadakan persiapan sebelum matahari terbenam, sehingga dapat segera mengarahkan pandangannya kearah tempat hilal.

Beberapa hadist disyariatkan melihat hilal sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah jika kalian telah melihat (hilal) bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula. Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين

”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlh kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1907).

Pada metode inipun, sebagian ulama memakai prinsip Wihdatul Matahali’ (kesamaan masa terbit), dalam arti : apabila ada seorang muslim melihat hilal di suatu daerah, maka umat Islam di daerah lain berkewajiban menyesuaikan. Dan sebagian ulama lain memakai prinsip Ikhtilaful Mathali’  (perbedaan masa terbit), dalam arti : apabila seorang muslim di suatu daerah melihat hilal, maka tidak  mewajibkan umat Islam di daerah lain yang belum melihat hilal untuk berpuasa karenanya.

2. Metode Hisab, yaitu mentakdirkan adanya hilal (dengan ilmu falak). Metode ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW :

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda :

إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غُمَّ عليكم فاقدروا له
“Jika kamu melihat dia (hilal) maka berpuasalah kamu, dan jika kamu melihat dia (hilal) maka berbukalah, jika pandangan kamu terhalang mendung maka perkirakanlah.”[8] (HR Bukhari no 1767; Muslim no 1799; An-Nasa`i no 2094; Ahmad no 7526).

Mutharrif bin Abdullah bin Assyikhir (tokoh tabi’in), Abul Abbas bin Suraij, Ibnu Qutaibah dan lainnya mengatakan : makna  فاقدروا له   ialah “perkirakan hilal itu dengan berdasar hisab/ilmu falak”.

Pada metode ini , sebagian ulama memakai prinsip Wujudul Hilal , dalam arti : Apabila hilal sudah wujud (ada) di atas ufuk dengan tanpa melihat tinggi posisinya, maka ditetapkan keesokan hari sudah masuk Bulan Ramadhan. Dan sebagian ulama lain memakai prinsip Imkaniyatur Rukyah , dalam arti bahwa keberadaan hilal di atas ufuk tersebut harus dalam posisi yang memungkinkan untuk di-rukyah agar bisa dijadikan ukuran penentuan masuknya Bulan Ramadhan.

Penentuan awal bulan termasuk dalam kategori Ijtihadiyah yang hasilnya nisbi (ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salah), sementara kebersamaan dan persatuan antar umat Islam adalah sebuah kepastian. Di samping itu, juga sesuai dengan sabda Rasulullah SAW (yang artinya): Puasa adalah di hari dimana kalian semua berpuasa, berbuka adalah di hari dimana kalian semua berbuka, dan ‘Idul Adha adalah di hari kalian semua berkurban.” (HR Tirmidzi)

Wallohu ‘alam

Sumber referensi :

Panduan Ibadah Ramadhan,IKADI Malang,2012

Iklan

Konsekuensi Orang-orang yang Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Berikut ini orang -orang yang tidak berpuasa berikut konsekuensinya :

1. Tidak wajib berpuasa dan tidak sah puasanya :

    *) Orang kafir

   *) Orang gila

2. Wajib berbuka dan wajib qodho’ :

    *) Wanita nifas dan haidh

3. Boleh berbuka dan wajib qodho’ :

    *) Orang sakit

    *) Musafir

    *) Wanita hamil/menyusui, apabila berat untuk berpuasa (menurut ulama Hanafiyah) atau khawatir atas dirinya (menurut mayoritas ulama)

    *) Pekerja berat yang  tidak mampu untuk berpuasa, dan ada  alternatif pekerjaan lain selepas Ramadhan.

4. Boleh berbuka dan wajib fidyah :

    *) Yang lanjut usia dan berat untuk berpuasa.

   *) Yang sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh

   *) Wanita hamil/menyusui, apabila berat untuk berpuasa (Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar)

  *) Pekerja berat yang tidak mampu untuk berpuasa, dan tidak ada alternatif  pekerjaan lain selepas Ramadhan.

5. Batal puasanya dan wajib qodho’ :

   *) Yang makan dan minum dengan sengaja.

6. Tidak berpuasa dan wajib qodho’ dan fidyah :

     *) Wanita hamil/menyusui yang khawatir atas dirinya dan janinnya (Menurut mayoritas ulama selain ulama Hanafiyah).

     *) Yang mengakhirkan qodho’ puasa hingga datangnya Ramadhan berikutnya.

7. Batal puasanya dan wajib qodho’ dan Kafarah :

   *) Yang berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan.

Catatan mengenai wanita hamil/menyusui yang tidak berpuasa :

Karena ada 3 (tiga) fatwa dari para ulama mengenai konsekuensi bagi wanita hamil/ menyusui yang tidak berpuasa disebabkan berat untuk berpuasa (sebagaimana disebutkan di atas), maka kita bisa menyikapinya sebagai berikut:

*) Apabila ia wanita yang sering hamil, seyogyanya ia membayar fidyah, sebagaimana fatwa Ibnu Abbas dan Ibnu Umar.

*) Apabila ia wanita yang tidak terlalu sering hamil dan mampu untuk mengqodho’, maka seyogyanya ia mengqodho’  hutang puasanya, sebagaimana fatwa para ulama Hanafiyah.

*) Apabila dengan mengqodho’ , Iapun mempunyai keleluasan harta, seyogyanya sambil mengqodho’ disertai dengan membayar fidyah, sebagaimana fatwa para ulama Syafiiyah dan Hanabilah.

Sumber referensi :

Panduan Ibadah Ramadhan,IKADI Malang, 2012.

Qodho’ , Fidyah, dan Kafarah bagi yang Tidak Berpuasa

Mengqodho’ puasa artinya mengganti hutang puasa pada hari-hari yang lain di luar Ramadhan. Qodho’ puasa bisa dimulai semenjak awal bulan Syawal hingga akhir bulan Sya’ban, selain pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa seperti hari ‘Id dan hari -hari Tasyrik. Dan pelaksanaan qodho’ diutamakan untuk disegerakan.

Adapun fidyah adalah mengganti puasa untuk orang-orang yang sudah tidak lagi mampu berpuasa, dan besarnya minimal 1/4 sha, atau 1 mud, atau sekitar 7  ons beras, untuk 1 hari tidak berpuasa. Lebih baik jika lebih dari itu. Dapat juga dalam bentuk makanan matang atau yang senilai harganya.

Adapun Kafarah adalah denda yang dikenakan bagi yang berhubungan suami istri (berjimak) pada siang Ramadhan, dalam bentuk secara berurutan sebagai berikut :

1. Memerdekakan budak. Apabila tidak mampu/tidak ada, maka:

2. Berpuasa 2 (dua) bulan berturut-turut. Apabila tidak mampu, maka:

3. Memberikan makan kepada 60 (enam puluh) orang miskin, masing-masing sejumlah sama dengan fidyah.

 

 

 

Hal-hal Yang Membatalkan Puasa

Adapun hal-hal yang bisa membatalkan puasa adalah sebagai berikut:

1. Makan dan minum dengan sengaja.

Jika makan dan minum tersebut tidak disengaja, maka tidak membatalkan puasa. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ” Barangsiapa yang terlupa sedangkan ia berpuas, kemudian ia makan atau  minum, maka hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah.” (HR Jama’ah)

2. Muntah dengan sengaja.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ” “Barang siapa yang muntah dengan  tidak disengaja, maka tidak diwajibkan mengqodho’ dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib baginya untuk mengganti puasanya (mengqodho’.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa’ no. 930)

3.Istimna’ (onani/masturbasi), yaitu mengeluarkan mani dengan sengaja

4. Haidh dan Nifas

5. Berhubungan suami istri (Berjimak)

Syarat Puasa

Syarat-syarat Puasa

Syarat wajib puasa, yaitu :

1. Islam

2. Baligh

3. Berakal

4. Mampu

5. Mukim

6. Tidak Haidh dan tidak nifas

Syarat sah Puasa:

1. Niat

2. Dilaksanakan pada waktunya

 

Keutamaan Puasa dan Bulan Ramadhan

Beberapa keutamaan dari Berpuasa sebagai berikut:

1. Puasa adalah sarana pengendali syahwat.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Wahai  para pemuda, jika  diantara kalian telah mampu untuk menikah maka menikahlah,  karena dengan menikah ia akan lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan lebih mampu untuk menjaga kemaluan. Namun jika  belum mampu menikah  maka hendaknya ia  berpuasa, karena puasa itu obat.” HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Masud.

2. Puasa adalah sarana penghapus dosa.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan  semata-mata mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu .” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Puasa adalah sarana untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Bagi seorang yang berpuasa ada dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. ” (HR Bukhari dan Muslim)

4. Puasa akan menjadi pemberi syafaat bagi pelakunya di hari kiamat.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda  “Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang  hamba di hari kiamat . ” (HR Hakim)

5. Puasa adalah perisai dari api neraka.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “ “Puasa adalah perisai yang dengannya seseorang akan membentengi dirinya  dari  neraka”. (HR.Thabrani).

6. Puada adalah ibadah yang tidak ada tandingannya .

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Umamah : “Berpuasalah anda, sesungguhnya puada adalah ibadah yang tidak tertandingi. ” (HR Nasa’i)

7. Pada setiap Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda ,” Jika datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta syetan-syetan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim)

8. Pada salah satu malam Ramadhan ada Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Qadr.

9. Besarnya potensi terkabulkannya do’a di bulan Ramadhan.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda ,” Bagi setiap muslim ada do’a yang terkabul yang dilakukkannya di bulan Ramadhan. ” ( HR Malik dan Ahmad)

10. Malam Ramadhan adalah malam pembebasan dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : ” Pada setiap malam di bulan Ramadhan Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari neraka . ” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Referensi :

Panduan Ibadah Ramadhan, IKADI Kota Malang, 2012

Bercermin Pada Fakta

Hidup kita penuh dengan ketidakpastian. Gaya hidup sehat tak menjamin penyakit dan kematian akan menghilang.Karenanya kita perlu merencanakan perlindungan terhadap risiko tak terduga di masa depan. Kenyataan berkata, masih banyak orang Indonesia yang belum melihat asuransi sebagai pilihan.

Riset yang digagas AIA Financial, bekerjasama dengan MarkPlus pada tahun 2011 menemukan bahwa hanya dua dari lima orang Indonesia yang memiliki persiapan menghadapi risiko di masa depan. Sedangkan tingkat kepemilikan asuransi jiwa baru dapat menjangkau 1 dari 6 orang Indonesia.

Masyarakat masih punya persepsi yang keliru terhadap produk asuransi dan menganggap ini sebagai beban bagi sumber daya keuangan mereka.  Sebagian lagi tak terlalu memikirkan kesulitan menghadapi musibah di masa depan dan hanya bergantung pada nasibnya semata.

Padahal dalam tiga tahun terakhir, biaya pengobatan di Indonesia telah meningkat 10-14% (Laporan Towers Watson 2011). Tanpa perubahan struktur pendapatan di rumah tangga dan dengan tingkat inflasi sekitar 6,5%, biaya hidup dapat terus meningkat setiap tahunnya.

Menurut studi AIA Financial, rata-rata tingkat kesenjangan perlindungan antara kebutuhan financial di masa depan dengan proteksi yang tersedia di keluarga Indonesia mencapai 77%.  Studi Swiss Re menyatakan meskipun kenyataan perlindungan Indonesia telah menurun dari 88% pada tahun 2000 menjadi 78% pada tahun 2010, namun jumlah nominal kesenjangannya meningkat 11% setiap tahunnya terutama untuk kebutuhan memproteksi kematian.

Survey menyimpulkan pula bahwa hanya sebagian kecil responden yang membeli sendiri perlindungan asuransinya. Kebanyakan dari mereka mendapat perlindungan asuransi dari kantornyamasing-masing.

Asuransi seharusnya tidak dipandang sebagai beban pada sumber keuangan seseorang jika kita mampu merencanakan keungan dengan baik. Asuransi bukanlah beban tetapi aset.

Segera hubungi Financial Conselor dari perusahaan asuransi yang anda kenal.

Sumber : AIA Financial