Archive | Juli 2013

Investasi di Solusi Prima- AIA VS Deposito di bank

solusi prima

Untuk mengikuti program ini, kelengkapannya :

1. Fotocopy identitas diri yang masih berlaku, KTP/SIM/Pasport

2. Mengisi form aplikasi

3. Fotocopy identitas buku tabungan, BCA/BII/Niaga/BRI/Mandiri

Info lebih lanjut hubungi saya:

Asnik Yanatun,S.Pd

Office : PT AIA Financial

EAM Business, Jl Merbabu no 29 Malang

Telp 0341-334455

HP 085646783976/ PIN BB 75808D4D

OJK ? Apaan tuh

Orang yang suka investasi pasti akrab dengan slentingan kata “OJK”. Kalau belum tahu yah bukan investor sejati. Yuk kita belajar tentang istilah OJK. OJK merupakan singkatan dari Otorisasi Jasa Keuangan. Istilah OJK ini muncul juga pada berita di Televisi ketika Ustadz Yusuf Mansyur diwawancarai masalah pada bisnis investasi  patungan usaha yang dirintisnya dan beliau memenuhi panggilan OJK dalam hal ini. Berita mengenai ini bisa dibaca di sini

Kembali ke pembahasan OJK.

Baca sampai habis ulasan kali ini agar paham ya. Yukkk

Sekilas Mengenai OJK ( Otorisasi Jasa Keuangan ) di Indonesia Sesuai dengan UU No 21 Tahun 2011

Di Indonesia mungkin kata-kata tentang OJK mungkin belum banyak kita kenal. OJK adalah singkatan dari Otorisasi Jasa Keuangan, sebelum mengenal lebih lanjut tentang OJK kita harus lebih dahulu mengerti apa yang dimaksud dengan Jasa Keuangan. Jasa keuangan secara umum adalah istilah yang digunakan untuk merujuk jasa yang disediakan oleh industry atau organisasi keuangan salah satu bentuk perusahaan yang menyediakan jasa keuangan adalah bank, asuransi, kartu kredit dan sekuritas. Sejarah singkat mengenai Jasa Keuangan, dapat dilihat kembali dari perkembangan di amerika serikat sejak dikeluarkannya Gramm-Leach-Bliley Act pada akhir tahun 1990 yang memungkinkan perusahaan yang beroperasi di industry keuangan AS untuk bergabung.

Sedangkan yang dimaksud dengan OJK sendiri kita dapat mellihatnya pada UU no 21 tahun 2011. Menurut Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata dengan pembentukan OJK diharapkan dapat berperan sebagai badan pengawas industry keuangan yang bersifat netral dan konsisten dalam menjalankan aturan yang berlaku.

<>. Pengertian OJK

Menurut UU No 21 tahun 2011 Bab I pasal 1 ayat 1 yang dimaksud dengan OJK “adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.”

Pada dasarnya UU mengenai OJK hanya mengatur mengenai pengorganisasian dan tata pelaksanaan kegiatan keuangan dari lembaga yang memiliki otoritas pengaturan dan pengawasan terhadap sektor jasa keuangan. Diharapkan dengan dibentuknya OJK ini dapat dicapai mekanisme koordinasi yang lebih efektif di dalam menangani permasalahan yang timbul dalam sistem keuangan sehingga dapat lebih menjamin tercapainya stabilitas sistem keuangan dan agar adanya pengaturan juga pengawasan yang lebih terintegrasi.

<>. Tugas Seksi Jasa Keuangan

Menurut pasal 6 dari UU No 21 tahun 2011 tugas utama dari OJK adalah berupa melakukan pengaturan dan juga pengawasan terhadap kegiatan berikut :

  • Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan
  • Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal
  • Kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

Dalam menjalankan tugas pengaturan dan pengawasan, OJK mempunyai wewenang:

  • Terkait Khusus Pengawasan dan Pengaturan Lembaga Jasa Keuangan Bank yang meliputi :
    • Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar, rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan
    • Kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa;
    • Pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi: likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset, rasio kecukupan modal minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap simpanan, dan pencadangan bank; laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank; sistem informasi debitur; pengujian kredit (credit testing); dan standar akuntansi bank;
    • Pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi:  manajemen risiko; tata kelola bank; prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang; dan pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan; dan pemeriksaan bank.
  • Terkait Pengaturan Lembaga Jasa Keuangan (Bank dan Non-Bank) yang meliputi :
    • Menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
    • Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
    • Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK
    • Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
    • Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan;
    • Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
    • Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
  • Terkait Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (Bank dan Non-Bank) yang meliputi :
    • Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan;
    • Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif;
    • Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
    • Memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak tertentu;
    • Melakukan penunjukan pengelola statuter;
    • Menetapkan penggunaan pengelola statuter;
    • Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; dan
    • Memberikan dan/atau mencabut: izin usaha, izin orang perseorangan, efektifnya pernyataan pendaftaran, surat tanda terdaftar, persetujuan melakukan kegiatan usaha, pengesahan, persetujuan atau penetapan pembubaran dan penetapan lain.

<>. Asas-asas OJK dalam menjalankan kegiatan

Untuk melaksanakan kegiatannya OJK sendiri juga mempunyai asas-asas tertentu yang harus dijadikan pedoman yaitu :

  1. Asas Independensi, tentang sifat independensi OJK dalam melaksanakan kegiatannya
  2. Asas Kepastian Hukum, bahwa OJK mengutamakan landasan dari UU yang berlaku untuk melakukan kegiatannya
  3. Asas Kepentingan Umum, bahwa semua kegiatan OJK didasarkan untuk melindungi dan memajukan kepentingan umum
  4. Asas Profesionalitas
  5. Asas Integritas, OJK selalu berpegang teguh pada nilai moral dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambilnya
  6. Asas Keterbukaan
  7. Asas Akuntabilitas, bahwa semua kegiatan dari OJK sendiri dapat dipertanggungjawabkan kepada public

<>. Tantangan dan Kelemahan dari OJK

Dengan digabungkannya kegiatan dan pengawasan sector keuangan menjadi OJK tentu ada tantangan dan kelemahan yang menyertainya, salah satu bentuk tantangan terbesar efektivitas dan kredibilitas OJK. Seperti yang sudah kita ketahui selama ini sector jasa keuangan di Indonesia masih bisa tergolong lemah terhadap krisis keuangan global.

Salah satu penyebabnya adalah masih terkonsentrasi pada perbankan. Bank menghadapi masalah struktural lemahnya permodalan, rendahnya variasi pendanaan, dan risiko UMKM sehingga mengakibatkan masih tingginya biaya dana dan suku bunga perbankan. Diharapkan kelemahan ini dapat diatasi dengan sektor jasa keuangan akan diatur dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut Anggito Abimanyu Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Yogyakarta berikut ini adalah beberapa tantangan dari OJK

Tantangan Pendalaman

Apabila kita meninjau aset sektor jasa keuangan dan kapitalisasi pasar modal, kita tertinggal dibandingkan dengan negara berkembang lain. Salah satu tujuan dari pembentukan OJK menurut UU adalah agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan dapat diintegrasikan sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan memudahkan koordinasi. Tantangan utama yang dihadapi di sektor keuangan di Indonesia adalah konsekuensi dari pendalaman sektor keuangan, kerentanan pada risiko global, dan kredibilitas OJK.

Sektor keuangan merupakan “pusat” dari sistem dalam sebuah perekonomian. Kegagalan sektor keuangan dapat melemahkan kinerja seluruh sistem dalam perekonomian (Joseph Stiglitz, 1994). Salah satu kunci utama pendalaman keuangan adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi akses untuk pihak-pihak yang tak memiliki kecukupan finansial. Tak kalah penting adalah kekuatan struktur permodalan, infrastruktur, dan inovasi produk jasa keuangan.

Yang menjadi masalah adalah bahwa inovasi produk keuangan juga memiliki resiko tersendiri yaitu pertumbuhan produk derivatif (suatu cara untuk membuat para pemegang dana memiliki rasa aman, tetapi eksesnya tidak dapat diperkirakan) sangat cepat dan pada umumnya (80 persen) produk derivatif berupa over the counter (OTC) dalam bentuk forex options dan future, credit default swap (CDS), dan OTC lainnya.

Kerentanan Terhadap Krisis Global

Sektor jasa keuangan di Indonesia masih sangat rentan pada gejolak eksternal. Krisis keuangan dapat terjadi sebagai akibat dari efek ketularan, baik dari negara tetangga, lingkup regional, maupun global. Dampak krisis moneter 1998 terhadap perekonomian Indonesia sangat besar, dengan biaya pemulihan krisis mencapai 60 persen dari PDB. Sektor perbankan Indonesia praktis kolaps jika pemerintah tidak merekapitalisasi perbankan. Krisis 1998 memberikan pelajaran mengenai pentingnya kehati-hatian dan pengelolaan serta pengawasan perbankan yang profesional.

Kepercayaan Terhadap OJK

OJK adalah lembaga otoritas yang dibentuk dari integrasi dua lembaga besar, yaitu Direktorat Pengatur dan Pengawas Perbankan BI dan Bapepam-LK Kementerian Keuangan. Selain kendala kelambanan waktu, efektivitas lembaga, dan cakupan wilayah kerja, OJK menghadapi permasalahan dalam mencapai model integrasi yang optimal karena peran dan kepentingan masing-masing cenderung berbeda, yakni antara prinsip prudensial pada perbankan dan lembaga keuangan serta keterbukaan pada pasar modal.

Sedangkan mengenai masalah kelemahan OJK sendiri, menurut Calon Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mulia P Nasution kelemahan dari OJK antara lain soal pengaturan dan pengawasan dalam satu organisasi secara terpadu namun beliau juga mengatakan bahwa dengan organisasi yang mengatur dan mengawasi yang baru ini, mestinya bisa bekerja dengan baik dibandingkan dengan organisasi yang sekarang.

Sumber dan referensi :

Yuk Nabung…..

Tulisan ini saya copas dari teman yang seprofesi dengan saya.

TABUNGANKU PERLINDUNGANKU

by Ahmad Paryono (Notes) on Saturday, August 27, 2011 at 6:35pm
Bagaimana kabar Anda dan orang-orang yang Anda cintai saat ini?
Harapan kita, tentunya selalu dalam keadaan sehat, pekerjaan dan usaha selalu lancar dan tambah sukses, keuangan stabil dan berharap lebih berkah dan selalu cukup – cukup untuk segala keperluan. Amin!

Harapan semua orang, saya dan Anda menginginkan keadaan yang baik dan menyenangkan, tetapi sayangnya dalam mengarungi samudra kehidupan ini sudah menjadi hukum alam adanya pasang surut; untuk itu marilah kita pergunakan waktu kita dengan sebaik mungkin dengan segala aktivitas yang bermanfaat, sehingga konsep hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik lagi dari hari ini bisa terwujud.

Sekali lagi mari kita manfaatkan waktu kita selagi kita (5 perkara sebelum 5 perkara) masih ; muda, sehat, kaya, lapang, dan masih bisa menikmati indahnya mentari pagi (hidup maksudnya).

Nabung yuk!
Dimana?

Sebelum kita lanjutkan berapa nabung yang ideal, dimana nabung yang tepat, kita simak hikayat tafsir mimpi Nabi Yusuf AS.

Nabi Yusuf pernah dipenjara oleh Raja Mesir yang akhirnya dibebaskan karena mampu menafsirkan mimpi yang sangat mengganggu sang baginda, yakni mimpi mengenai tujuh ekor sapi gemuk yang digantikan oleh tujuh ekor sapi kurus.

Nabi Yusuf menafsirkannya akan datangnya masa makmur selama tujuh tahun dan akan digantikan masa paceklik selama tujuh tahun.  Setelah mendengarkan penafsiran tersebut Sang Raja pun memerintahkan untuk membuat persiapan-persiapan selama masa makmur sebagai langkah antisipasi selama masa paceklik, seperti membuat lumbung-lumbung untuk menyimpan hasil panen yang melimpah saat masa makmur

Hal tersebut ternyata menyelamatkan kesejahteraan rakyat Mesir selama masa paceklik hingga mereka dapat melewatinya dengan baik karena adanya langkah-langkah antisipasi selama masa makmur.

Masa makmur adalah masa dimana waktunya untuk menghadapi masa paceklik, waktu yang tepat untuk menabung, waktu yang tepat untuk membentuk perlindungan terhadap ketidakpastian masa datang yang bisa terjadi pada siapapun, termasuk saya dan Anda. 

Nah, kali ini saya akan share tentang Konsep “Tabunganku Perlindunganku“, yakni konsep menabung yang akan memberikan multi manfaat, yakni
1. manfaat investasi dengan hasil yang optimal
2. manfaat perlindungan secara maksinal terhadap diri kita jika kita mengalami resiko kehidupan ini

Lalu, seperti apa tabungan yang ideal?
Tabungan yang ideal adalah tabungan yang mampu memberikan kedua manfaat tersebut diatas, sehingga kedua manfaat tersebut seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan .

Dari sisi manfaat investasi, tabungan yang ideal adalah tabungan yang mampu memberikan return atau hasil yang bisa mengantisipasi tingginya tingkat inflasi yang rata-rata sebesar 10% per tahun. Jadi tabungan yang ideal harus mampu memberikan hasil yang lebih besar dari 10% per tahun. Sementara tabungan yang akan saya share dapat memberikan pengembalian hasil net rata-rata sebesar 15%. Bahkan yang terjadi saat ini mampu memberikan hasil sebesar 35% per tahun

Dari sisi manfaat perlindungan, tabungan yang ideal adalah jenis tabungan yang mampu mengantisipasi segala resiko kehidupan yang bisa terjadi pada semua orang, termasuk saya dan Anda atau orang-orang sekitar kita.

Resiko kehidupan tersebut antara lain :

    1. 20% -> Resiko Sakit
    1. 20% -> Resiko Kecelakaan
    1. 20% -> Resiko Cacat tetap
    1. 20% -> Resiko Meninggal Dunia
    1. 20% -> Resiko Panjang Umur atau Pensiun

Kita semua tidak berharap adanya resiko-resiko tersebut, tetapi kita juga tidak dapat menolak jika resiko tersebut juga terjadi pada diri kita, keluarga kita, kerabat kita ataupun teman karib kita. Kita semua bisa mengalami resiko-resiko tersebut, hanya masalah waktu saja yang kita semua tidak tahu. Oleh karena itu diperlukan adanya persiapan dan perencanaan seperti yang dikisahkan dalam hikayat tafsir mimpi Nabi Yusuf 

Yuk kita share resiko tersebut satu per satu.
RESIKO SAKIT

Sakit bisa terjadi pada siapa pun, bahkan sakit kritis pada saat ini tidak terjadi pada orang tua saja – anak-anakpun bisa menderita sakit kritis. Diilustrasikan pada sinetron Anugerah – NUGI yang masih anak-anak sudah menderita kanker. Mungkin kita juga masih ingat ada anak seorang pembantu di Singapura yang menderita sakit kritis dan membutuhkan biaya yang sangat besar yang pernah dijenguk oleh Olga Saputra dan selama di rumah sakit dibiayai oleh sang majikan. Di media-media hampir setiap hari kita menyaksikan banyak orang yang terdiagnosa dan menderita sakit kritis. Sakit kritis tidak pandang usia, kaya dan miskin, artis, pejabat, ataupun rakyat biasa bisa terjadi.

Permasalahannya mayoritas orang Indonesia tidak siap dengan biaya yang dibutuhkan untuk pemulihan kesehatan akibat sakit kritis ini yang berkisar minimal Rp. 100 juta – Rp. 150 juta.

Bagaimana jika ini terjadi pada kita, bagaimana jika anggota keluarga kita ada yang terdiagnosa sakit jantung, kanker, stroke, gagal ginjal atau yang lainnya?
Sudah siapkah kita jika dokter meminta kita menyiapkan dana Rp. 250juta untuk operasi akibat sakit jantung?

Jika ini MASALAH buat Anda – jangan kuatir, akan saya tunjukkan bagaimana mengantisipasinya. Anda hanya butuh menabung minimal 1/10 dari yang diminta dokter.

RESIKO KECELAKAAN
Kecelakaan juga bisa terjadi pada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Di Jawa Pos Agustus 2011 pernah ada kecelakaan truk terguling yang memuat jemaat GKJW dengan korban 10 orang meninggal dan 45 orang luka parah. Mertua saya meninggal juga akibat kecelakaan, saat berjalan dipinggir jalan ditabrak sama anak seusia SMP yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi yang menyalip mobil dari arah kiri dan kehilangan kendali. Jadi kecelakaan bisa terjadi saat kita berhati-hati, saat kita diam. saat berjalan, saat berlari atau dalam mondisi apapun.

Apakah kita sudah terlindungi  dari akibat kecelakaan ini?
Akibat terparah dari resiko ini adalah biaya yang cukup besar untuk recovery pemulihan kesehatan.
Akibat yang lain adalah kita tidak mampu bekerja untuk menghasilkan uang untuk waktu tertentu dalam pemulihan kesehatan akibat resiko kecelakaan ini, sementara keluarga kita tetap membutuhkan uang untuk biaya hidupnya selama kita dirawat di rumah sakit untuk pemulihan kesehatan ini.

Jika ini MASALAH buat Anda – jangan kuatir, akan saya tunjukkan bagaimana mengantisipasinya.

RESIKO CACAT TETAP
Cacat bisa terjadi kaena sakit dan kecelakaan.
Kecelakaan meninggal beres, bagaimana jika kecelakaan terus mengalami cacat tetap?
Akan menanggung biaya hidup yang mahal dan banyak, jika keluarganya mampu tidak masalah, tetapi sampai kapan kemampuan itu? Sampai kapan tabungannya cukup untuk memenuhi biaya hidupnya dan keluarganya?

Apakah kita sudah mempersiapkan jika hal ini terjadi?
Jika ini menjadi MASALAH buat Anda, kami akan memberikan solusi terbaik buat Anda – jika ini terjadi ada perusahaan yang mampu memberikan tabungan dengan cuma-cuma hingga usia Anda 65 tahun.

RESIKO MENINGGAL DUNIA
Semua orang PASTI meninggal, tetapi tidak semua orang PASTI meninggalkan warisan.untuk orang-orang yang dikasihinya. Apakah kita sudah menyiapkan kePASTIan meninggalkan warisan untuk orang-orang yang kita cintai dan sayangi?

Suami adik saya meninggal dalam usia yang sangat muda, meninggalkan seorang anak yang masih berusia 5 tahun – seorang anak yang masih sangat membutuhkan biaya yang sangat besar

Sudahkah kita menyiapkan kePASTIan warisan yang cukup untuk keluarga kita terkasih jika kita keluar dari gambaran hidup ini?

Jika ini menjadi MASALAH  bagi Anda, silakan simak terus ulasan pada blog ini.
Dan untuk menghitung besarnya kePASTIan warisan akan kita bahas pada bahasan yang lain.
Silakan lihat/klik aja di ==>> cara menghitung warisan yang ideal di bahasan Family Income Protect

RESIKO PANJANG UMUR
Jika kita diberi panjang umur sampai dengan usia 100 tahun, apakah kita bisa menolak?
Sementara umumnya kita pensiun pada usia 55 tahun, masih ada 45 tahun lagi kita harus bisa bertahan hidup.

Apakah kita sudah menyiapkan DANA PENSIUN untuk masa 45 tahun ke depan?
Tahukah Anda, berapa  DANA PENSIUN yang harus Anda miliki agar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda seusai usia 55 tahun – untuk 45 tahun ke depan.

***> Ilustrasi Dana Pensiun yang ideal >>> Dana Pensiun yang ABADI

Kami punya solusi untuk kelima RESIKO tersebut di atas hanya dengan satu jenis rekening tabungan, timggal berapa Anda bisa menyisihkan uang untuk Anda tabung.
Adakalanya beberapa klien kami menabung 10 juta per tahun, ada yang bisa 25 juta, 50 juta, 100 juta bahkan ada yang sampai 500juta bahkan 1 M per tahun.


Semua tergantung kebutuhan dan kemampuan Anda menabung, hanya Anda yang mengetahui kemampuan dan kebutuhan Anda, berapapun kebutuhan dan kemampuan Anda – kami siap membantu mengalihkanRESIKO-RESIKO tersebut.


Lalu apa keuntungan dan manfaat yang akan Anda terima?
Silakan lanjutkan menyimak share kami di SINI


Salam Sejahtera!


WE PROTECT
Kami Melindungi 

Bagaimana menurut anda?