Arsip

BERHARGANYA 1 TARIKAN NAFAS

Pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung… berkata pada para dokter yg merawatnya spt ini :

“Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan ak
u utk menemui ibuku sebentar saja ”

Dokter menjawab :
“Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kpd hamba semuanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas”

Mendengar jawaban tsb, air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dia berkata :
” Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka saya tdk akan pernah menyia2kan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan ”

Kemudian sang Raja pun berpesan, spy nanti sewaktu diarak dlm peti mati menuju peristirahatannya yg terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan,

supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yg hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dgn tangan kosong…

Tidak memiliki apa” dan tidak membawa apa” ……..

Kelahiran & kematian adalah awal & akhir, yg terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yg ada diantara ke duanya.

God’s beloved …..

Untuk itu, jangan lupa selalu mengutamakan Tuhan sang pemberi kehidupan kekal , selalu bersyukur di saat senang maupun menghadapi kesusahan.

Iklan

Amaliyah Selama Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling istimewa.  Pada bulan Ramadhan ini Allah Subhanahu Wa ta’ala akan melipat gandakan pahala ibadah. Bagi ibadah sunnah, Allah akan melimpahkan pahala setara dengan ibadah wajib. Dan untuk ibadah wajib, Allah akan melipatgandakan pahalanya sebesar 70 kali lipat setiap amal. Maka sudah seharusnya kita bisa menggunakan momentum ini dengan sebaik-baiknya, dengan berlomba-lomba mengerjakan amal kebaikan di Bulan yang berkah ini.

Diantara amaliyah selama Ramadhan yang semestinya kita lakukan adalah sebagai berikut :

1. Berpuasa

Puasa adalah amaliyah terpenting dan teristimewa dalam Bulan Ramadhan, karena ia bisa berfungsi sebagai sarana penghapus dosa,di samping ia adalah amal yang tidak ada bandingnya disebabkan karena kebaikannya akan dilipatgandakan dengan kelipatan yang tidak terhingga. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَعْقُوبَ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجَاءُ بْنُ حَيْوَةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مُرْنِي بِأَمْرٍ آخُذُهُ عَنْكَ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ali dari ‘Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Abdullah bin Abu Ya’qub dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Raja’ bin Haiwah dari Abu Umamah dia berkata; Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata; “Perintahlah aku dengan suatu perintah dimana aku bisa mengambilnya dari engkau.” Beliau bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa, karena ia tidak ada bandingannya.” (HR Nasa’i)

Dan agar kebaikan -kebaikan puasa tersebut bisa kita raih secara optimal, maka hendaknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

*) Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui serta menjaga rambu-rambunya.

*) Bersungguh-sunggguh melakukan puasa dengan menepati aturan-aturannya.

*) menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai puasa, seperti perbuatan sia-sia dan perbuatan haram.

*) Tidak meninggalkan puasa dengan sengaja walaupun sehari.

*) Makan sahur dan men-ta’khir-kannya . Rasululllah Shalallaahu ‘alaihiWasalam bersabda :

      Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya.” Muttafaq Alaihi.

      Pada hadist yang lain, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi Wasalam bersabda yang artinya : ” Jika seorang diantara kalian mendengar adzan, sedangkan bejana ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sebelum mewujudkan kehendaknya. ” ( HR Hakim).

*) Berbuka dan menyegerakannya

عن سهل بن سعد – رضي عنهما – أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ((لا يزال الناس بخير ما عجل الفطر)) متفق عليه

Dari Sahal bin Sa’d –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaqun Alaihi)

*) Berdo’a, terutama pada saat berbuka

Do’a yang tidak tertolak ini adalah ketika waktu engkau berbuka berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda,

“Artinya : Tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya : orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil dan do’anya orang yang didhalimi”
(Hadits Riwayat Tirmidzi (2528), Ibnu Majah (1752), Ibnu Hibban (2407) ada jahalah Abu Mudillah).

Dari Abdulah bin Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda,
“Artinya : Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memiliki doa yang tidak akan ditolak”

(Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557), Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128), Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata : (2/81) ini sanad yang shahih, perawi-perawinya tsiqat).

2. Menghidupkan Malam dengan Shalat (Qiyam Ramadhan).

Ramadhan disamping disebut dengan Syahrus Shiyam juga disebut dengan Syahrul Qiyam . Hal tersebut karena adanya perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalam untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan sholat malam yang kemudian disebut dengan istilah shalat tarawih.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)
Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290)
Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Lihat Fathul Bari, 6/290)
Kedua, shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh.
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).  Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.
Ketiga, shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat.
Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjama’ah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633)
Apa Hukum Sholat Tarawih, dan apakah harus dilakukan secara jamaah di masjid?
Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam menganjurkan agar kita menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak shalay. Hal itu antara lain dapat terpenuhi dengan mendirikan shalat tarawih di sepanjang malamnya.
Fakta adanya pemberlakuan shalat tarawih secara turun temurun sejak Nabi Shalallalhu ‘alaihi Wasalam hingga sekarang merupakan dalil yang tidak dapat dibantah mengenai persyariatannya. Oleh karenanya para ulama menyatakan konsensus (ijma’) dalam hal tersebut.
Pada awalnya sholat tarawih dilaksankan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam dengan sebagian sahabat secara berjamaah di masjid Nabawi. Namun setelah berjalan tiga malam, Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam membiarkan para sahabat melakukan shalat tarawih secara sendiri-sendiri, sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (yang artinya): ” suatu saat di tengah malam Rasululllah Shalallahu ‘alaihi Wasalam keluar untuk sholat di masjid, maka beberapa sahabat pun bermakmum kepada beliau. Berita tersebut kemudian  menjadi pembicaraan diantara para sahabat di pagi hari, sehingga pada malam kedua jumlah sahabat yang bermakmum kepada Rasululllah Shalallahu ‘alaihi Wasalam bertambah lebih banyak dari sebelumnya. Berita tersebut kemudian menjadi pembicaraan diantara sahabat, sehingga pada malam yang ketiga jumlah yang bermakmum pun bertambah banyak lagi. Ketiga jumlah jamaah pada malam keempat bertambah sampai masjid tidak dapat menampungnya, Rasululllah  Shalallalhu ‘alaihi Wasalam pun tidak keluar untuk mengimami shalat di malam tersebut hingga keluar untuk shalat shubuh. Kemudian setelah selesai shalat shubuh, Rasulullah Shalallalhu ‘alaihi Wasalam menghadap kepada para sahabat dan bersabda (yang artinya) :” Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk shalat bersama kalian, akan tetapi aku khawatir jangan-jangan akan dianggap sebagai kewajiban, dan kalian tidak sanggup untuk melaksanakannya.”
Hingga di kemudian hari Umar bin Khattab  menyaksikan adanya fenomena shalat tarawih yang terpencar-pencar di masjid Nabawi , terbesit dalam pikiran beliau untuk menyatukannya sehingga terbentuklah shalat tarawih berjamaah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad-Dari, sebagaimana terekan dalam hadist (Al-Lu’Lu’ wal marjan :436). Dari sini mayoritas ulama menetapkan sunnahnya shalat tarawih secara berjamaah (lihat Syarh Shahih Muslim oleh Nawawi :6/39).
Berapa jumlah Rakaat shalat Tarawih?
Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha“Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738).
Adapun pada masa sahabat, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan tidak ada lagi kekhawatiran akan anggapan wajibnya shalat tarawih, Umar bin Khattab menghimpun umat islam untuk shalat tarawih dengan berjamaah dengan menunjuk Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad Dari untuk menjadi imam. Dan ternyata Ubay dan Tamim mengimami shalat dengan jumlah 21 rakaat dan 23 raka’at. Riwayat 21 raka’at terdapat dalam Mushanaf Abdur Rozaq, sedangkan riwayat 23 raka’at terdapat dalam Sunan Baihaqi. Keduanya dengan sanad yang shahih.
Lalu Bagaimana kita menyikapinya?
Ibnu Hajar ‘Asqalani berkata : “Sesungguhnya perbedaan jumlah raka’at tersebut adalah perbedaaan variatif sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Di satu waktu mereka shalat 11 raka’at, di waktu lain mereka shalat 23 raka’at, sesuai dengan semangat dan kemampuan mereka. Apabila mereka shalat 11 raka’at, mereke shalat dengan sangat panjang sehingga mereka bertumpu pada tongkat. Dan apabila mereka shalat 23 raka’at, mereka shalat dengan bacaan yang pendek sehingga tidak memberatkan jamaah”.
Mayoritas ulama termasuk empat imam madzabh-berpendapat bahwa shalat malam/tarawih, termasuk shalat sunnah yang tidak ada batas maksimal jumlah raka’atnya, meskipun sebagian mengatakan bahwa ada jumlah raka’at tertentu yang lebih utama daripada jumlah yang lin.
Sesungguhnya persatuan, kebersamaan, kelembutan hati, dan kesucian hati adalah tujuan dari disyariatkannya ibadah-termasuk shalat yang disepakati paran ulama, sementara jumlah raka’at tarawih adalah hal yang diperselisihkan. Untuk itu semestinya kita harus lebih mengedepankan kebersamaan dan persatuan-yang merupakan tujuan dari shalat-daripada sibuk saling berbantah tentang jumlah raka’at tarawih-yang masih diperselisihkan-yang karenanya justru berpotensi memunculkan perpecahan dan perasaan saling membenci.
Justru yang kita lakuakan semestinya adalah bagaimana kita berupaya untuk membantu saudara-saudara kita yang belum mau shalat agar mau shalat bersama kita.

3. Berinfak,bershadaqoh, dan memberi buka

Berinfak,bershadaqoh, dan memberi buka kepada orang yang berpuasa terutama di bulan Ramadhan adalah bentuk amal yang dijanjikan pahala besar, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) :” “Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Tirmidzi dari Anas).

 Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh terbaik  dalam hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadist berdasarkan riwayat Ibnu Abbas t, ia berkata:“Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan …(HR. al-Bukhari)Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun.” (HR. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)

Dan dalam hadits Salman Radhiyallahu ‘Anhu, “Siapa yang memberi makan orang puasa di dalam bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya, dibebaskan dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya.”

4. Banyak membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah amal yang diperintahkan untuk dilakukan setiap muslim setiap hari dan lebih ditekankan lagi pada bulan ramadhan, hal tersebut karena Ramdhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an dan pada setiap Ramadhan malaikat Jibril senantiasa datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk bertadarrus Al-Qur’an bersamanya.

Dan membaca Al-Qur’an adalah aktivitas yang senantiasa menguntungkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Faathir ayat 29-30 :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Artinya:
29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
30. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri[1].

5. Bertaubat

Bulan Ramadhan adaalah waktu yang sangat tepat untuk memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena banyaknya  ampunan yang Allah berikan kepada hamba-Nya pada bulan tersebut. Bahkan pada bulan Ramadhan ini, banyak orang akan Allah bebaskan dari api neraka, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya : “Sesungguhnya pada setiap malam dari bulan Ramadhan, Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari neraka.” (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)

Dan syarat-syarat taubat adalah sebagai berikut :

1. Segera meninggalkan perbuatan dosa.

2. Menyesal atas dosa yang dilakukan.

3. Bertekat untuk tidak mengulangi kembali

4. Taubat tersebut dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah

5. Dilakukan sebelum pintu taubat tertutup, yakni sebelum datangnya ajal

6. Apabila dosa atau kesalahan berkaitan dengan sesama manusia, maka harus diupayakan untuk diselesaikan.

6. Memperhatikan aktivitas sosial dan dakwah

Banyak aktivitas sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas yang bisa kita lakukan terutama selama bulan Ramadhan, misalnya menyelenggarakan bakti sosial di daerah-daerah yang membutuhkan (daerah bencana dan pemukiman miskin  misalnya) dengan memberikan santunan berupa makanan, pakaian, kesehatan atau yang lainnya yang memang mereka butuhkan.

7. Meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan sabdanya :

Carilah lailatul qadar pada tujuh malam terakhir (HR. Muslim)


الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

Carilah ia -lailatul qadar- di sepuluh akhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan

Metode-metode yang digunakan untuk menentukan masuknya awal Ramadhan,yaitu:

1. Metode Rukyat Hilal (dengan melihat hilal), dan bila hilal terhalang sehingga tidak terlihat pada saat dilakukan rukyah, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari.

Makna Hilal


Hilal adalah bulan sabit yang menjadi acuan pergantian bulan hijriyah. Hilal terbit di ufuk barat setelah tenggelamnya matahari. Hilal ini sangat tipis, sehingga sulit dilihat (bagi yang belum terbiasa melihat) dengan mata telanjang. Hilal akan terlihat 50 di atas ufuk setelah terjadinya ijtima’ (matahari, bumi dan bulan terletak dalam satu garis) yang biasa disebut dengan konjungsi atau bulan mati. Jarak waktu antara peristiwa konjungsi sampai dengan naiknya bulan pada posisi 50 adalah ± 2 jam. Hilal biasanya tidak lama berada di atas ufuk, sehingga orang-orang yang melakukan rukyat itu mengadakan persiapan sebelum matahari terbenam, sehingga dapat segera mengarahkan pandangannya kearah tempat hilal.

Beberapa hadist disyariatkan melihat hilal sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah jika kalian telah melihat (hilal) bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula. Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين

”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlh kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1907).

Pada metode inipun, sebagian ulama memakai prinsip Wihdatul Matahali’ (kesamaan masa terbit), dalam arti : apabila ada seorang muslim melihat hilal di suatu daerah, maka umat Islam di daerah lain berkewajiban menyesuaikan. Dan sebagian ulama lain memakai prinsip Ikhtilaful Mathali’  (perbedaan masa terbit), dalam arti : apabila seorang muslim di suatu daerah melihat hilal, maka tidak  mewajibkan umat Islam di daerah lain yang belum melihat hilal untuk berpuasa karenanya.

2. Metode Hisab, yaitu mentakdirkan adanya hilal (dengan ilmu falak). Metode ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW :

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda :

إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غُمَّ عليكم فاقدروا له
“Jika kamu melihat dia (hilal) maka berpuasalah kamu, dan jika kamu melihat dia (hilal) maka berbukalah, jika pandangan kamu terhalang mendung maka perkirakanlah.”[8] (HR Bukhari no 1767; Muslim no 1799; An-Nasa`i no 2094; Ahmad no 7526).

Mutharrif bin Abdullah bin Assyikhir (tokoh tabi’in), Abul Abbas bin Suraij, Ibnu Qutaibah dan lainnya mengatakan : makna  فاقدروا له   ialah “perkirakan hilal itu dengan berdasar hisab/ilmu falak”.

Pada metode ini , sebagian ulama memakai prinsip Wujudul Hilal , dalam arti : Apabila hilal sudah wujud (ada) di atas ufuk dengan tanpa melihat tinggi posisinya, maka ditetapkan keesokan hari sudah masuk Bulan Ramadhan. Dan sebagian ulama lain memakai prinsip Imkaniyatur Rukyah , dalam arti bahwa keberadaan hilal di atas ufuk tersebut harus dalam posisi yang memungkinkan untuk di-rukyah agar bisa dijadikan ukuran penentuan masuknya Bulan Ramadhan.

Penentuan awal bulan termasuk dalam kategori Ijtihadiyah yang hasilnya nisbi (ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salah), sementara kebersamaan dan persatuan antar umat Islam adalah sebuah kepastian. Di samping itu, juga sesuai dengan sabda Rasulullah SAW (yang artinya): Puasa adalah di hari dimana kalian semua berpuasa, berbuka adalah di hari dimana kalian semua berbuka, dan ‘Idul Adha adalah di hari kalian semua berkurban.” (HR Tirmidzi)

Wallohu ‘alam

Sumber referensi :

Panduan Ibadah Ramadhan,IKADI Malang,2012

Konsekuensi Orang-orang yang Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Berikut ini orang -orang yang tidak berpuasa berikut konsekuensinya :

1. Tidak wajib berpuasa dan tidak sah puasanya :

    *) Orang kafir

   *) Orang gila

2. Wajib berbuka dan wajib qodho’ :

    *) Wanita nifas dan haidh

3. Boleh berbuka dan wajib qodho’ :

    *) Orang sakit

    *) Musafir

    *) Wanita hamil/menyusui, apabila berat untuk berpuasa (menurut ulama Hanafiyah) atau khawatir atas dirinya (menurut mayoritas ulama)

    *) Pekerja berat yang  tidak mampu untuk berpuasa, dan ada  alternatif pekerjaan lain selepas Ramadhan.

4. Boleh berbuka dan wajib fidyah :

    *) Yang lanjut usia dan berat untuk berpuasa.

   *) Yang sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh

   *) Wanita hamil/menyusui, apabila berat untuk berpuasa (Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar)

  *) Pekerja berat yang tidak mampu untuk berpuasa, dan tidak ada alternatif  pekerjaan lain selepas Ramadhan.

5. Batal puasanya dan wajib qodho’ :

   *) Yang makan dan minum dengan sengaja.

6. Tidak berpuasa dan wajib qodho’ dan fidyah :

     *) Wanita hamil/menyusui yang khawatir atas dirinya dan janinnya (Menurut mayoritas ulama selain ulama Hanafiyah).

     *) Yang mengakhirkan qodho’ puasa hingga datangnya Ramadhan berikutnya.

7. Batal puasanya dan wajib qodho’ dan Kafarah :

   *) Yang berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan.

Catatan mengenai wanita hamil/menyusui yang tidak berpuasa :

Karena ada 3 (tiga) fatwa dari para ulama mengenai konsekuensi bagi wanita hamil/ menyusui yang tidak berpuasa disebabkan berat untuk berpuasa (sebagaimana disebutkan di atas), maka kita bisa menyikapinya sebagai berikut:

*) Apabila ia wanita yang sering hamil, seyogyanya ia membayar fidyah, sebagaimana fatwa Ibnu Abbas dan Ibnu Umar.

*) Apabila ia wanita yang tidak terlalu sering hamil dan mampu untuk mengqodho’, maka seyogyanya ia mengqodho’  hutang puasanya, sebagaimana fatwa para ulama Hanafiyah.

*) Apabila dengan mengqodho’ , Iapun mempunyai keleluasan harta, seyogyanya sambil mengqodho’ disertai dengan membayar fidyah, sebagaimana fatwa para ulama Syafiiyah dan Hanabilah.

Sumber referensi :

Panduan Ibadah Ramadhan,IKADI Malang, 2012.

Qodho’ , Fidyah, dan Kafarah bagi yang Tidak Berpuasa

Mengqodho’ puasa artinya mengganti hutang puasa pada hari-hari yang lain di luar Ramadhan. Qodho’ puasa bisa dimulai semenjak awal bulan Syawal hingga akhir bulan Sya’ban, selain pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa seperti hari ‘Id dan hari -hari Tasyrik. Dan pelaksanaan qodho’ diutamakan untuk disegerakan.

Adapun fidyah adalah mengganti puasa untuk orang-orang yang sudah tidak lagi mampu berpuasa, dan besarnya minimal 1/4 sha, atau 1 mud, atau sekitar 7  ons beras, untuk 1 hari tidak berpuasa. Lebih baik jika lebih dari itu. Dapat juga dalam bentuk makanan matang atau yang senilai harganya.

Adapun Kafarah adalah denda yang dikenakan bagi yang berhubungan suami istri (berjimak) pada siang Ramadhan, dalam bentuk secara berurutan sebagai berikut :

1. Memerdekakan budak. Apabila tidak mampu/tidak ada, maka:

2. Berpuasa 2 (dua) bulan berturut-turut. Apabila tidak mampu, maka:

3. Memberikan makan kepada 60 (enam puluh) orang miskin, masing-masing sejumlah sama dengan fidyah.

 

 

 

Hal-hal Yang Membatalkan Puasa

Adapun hal-hal yang bisa membatalkan puasa adalah sebagai berikut:

1. Makan dan minum dengan sengaja.

Jika makan dan minum tersebut tidak disengaja, maka tidak membatalkan puasa. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ” Barangsiapa yang terlupa sedangkan ia berpuas, kemudian ia makan atau  minum, maka hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah.” (HR Jama’ah)

2. Muntah dengan sengaja.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ” “Barang siapa yang muntah dengan  tidak disengaja, maka tidak diwajibkan mengqodho’ dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib baginya untuk mengganti puasanya (mengqodho’.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa’ no. 930)

3.Istimna’ (onani/masturbasi), yaitu mengeluarkan mani dengan sengaja

4. Haidh dan Nifas

5. Berhubungan suami istri (Berjimak)

Syarat Puasa

Syarat-syarat Puasa

Syarat wajib puasa, yaitu :

1. Islam

2. Baligh

3. Berakal

4. Mampu

5. Mukim

6. Tidak Haidh dan tidak nifas

Syarat sah Puasa:

1. Niat

2. Dilaksanakan pada waktunya