Arsip

Renungan Malam

Asuransi itu seperti tabung pemadam kebakaran, anda beli tapi berharap tidak akan pernah pakai.

Asuransi itu seperti fondasi rumah, tak terlihat tapi anda tak bisa membangun rumah tanpanya.Asuransi itu seperti menunggu bus di malam hari, sekali terlewat belum tentu kesempatan datang lagi.Premi asuransi mungkin tidak lebih besar dari gaji pembantu dan supir anda, tapi bisa bernilai seluruh hasil kerja keras anda.Asuransi ibarat pertahanan dalam sepakbola. Dengan pertahanan yg kuat mungkin anda tidak menang, tapi anda tidak mungkin kalah. ( Maksudnya minimal seri =D )

Sesungguhnya asuransi bukan masalah suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, perlu atau tidak perlu, mampu atau tidak mampu.

Asuransi cuma masalah kebijaksanaan.

Jadilah orang yang bijaksana, bukan hanya untuk anda, tapi juga untuk keluarga anda.

Its good to be clever, its great to be smart, but the best is to be wise.

Ping me di 3108CBE3 atau PM, jika anda ingin berdiskusi tentang asuransi untuk anda dan keluarga.

Terima kasih atas perhatiannya, dan sukses selalu untuk anda.

Hormat saya,
Asnik Yanatun,S.Pd
Financial Conselor PT AIA Financial-EAM Business
Jl merbabu no 29 Malang
HP 085646783976

Iklan

BERHARGANYA 1 TARIKAN NAFAS

Pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung… berkata pada para dokter yg merawatnya spt ini :

“Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan ak
u utk menemui ibuku sebentar saja ”

Dokter menjawab :
“Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kpd hamba semuanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas”

Mendengar jawaban tsb, air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dia berkata :
” Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka saya tdk akan pernah menyia2kan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan ”

Kemudian sang Raja pun berpesan, spy nanti sewaktu diarak dlm peti mati menuju peristirahatannya yg terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan,

supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yg hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dgn tangan kosong…

Tidak memiliki apa” dan tidak membawa apa” ……..

Kelahiran & kematian adalah awal & akhir, yg terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yg ada diantara ke duanya.

God’s beloved …..

Untuk itu, jangan lupa selalu mengutamakan Tuhan sang pemberi kehidupan kekal , selalu bersyukur di saat senang maupun menghadapi kesusahan.

Amaliyah Selama Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling istimewa.  Pada bulan Ramadhan ini Allah Subhanahu Wa ta’ala akan melipat gandakan pahala ibadah. Bagi ibadah sunnah, Allah akan melimpahkan pahala setara dengan ibadah wajib. Dan untuk ibadah wajib, Allah akan melipatgandakan pahalanya sebesar 70 kali lipat setiap amal. Maka sudah seharusnya kita bisa menggunakan momentum ini dengan sebaik-baiknya, dengan berlomba-lomba mengerjakan amal kebaikan di Bulan yang berkah ini.

Diantara amaliyah selama Ramadhan yang semestinya kita lakukan adalah sebagai berikut :

1. Berpuasa

Puasa adalah amaliyah terpenting dan teristimewa dalam Bulan Ramadhan, karena ia bisa berfungsi sebagai sarana penghapus dosa,di samping ia adalah amal yang tidak ada bandingnya disebabkan karena kebaikannya akan dilipatgandakan dengan kelipatan yang tidak terhingga. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَعْقُوبَ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجَاءُ بْنُ حَيْوَةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مُرْنِي بِأَمْرٍ آخُذُهُ عَنْكَ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ali dari ‘Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Abdullah bin Abu Ya’qub dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Raja’ bin Haiwah dari Abu Umamah dia berkata; Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata; “Perintahlah aku dengan suatu perintah dimana aku bisa mengambilnya dari engkau.” Beliau bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa, karena ia tidak ada bandingannya.” (HR Nasa’i)

Dan agar kebaikan -kebaikan puasa tersebut bisa kita raih secara optimal, maka hendaknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

*) Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui serta menjaga rambu-rambunya.

*) Bersungguh-sunggguh melakukan puasa dengan menepati aturan-aturannya.

*) menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai puasa, seperti perbuatan sia-sia dan perbuatan haram.

*) Tidak meninggalkan puasa dengan sengaja walaupun sehari.

*) Makan sahur dan men-ta’khir-kannya . Rasululllah Shalallaahu ‘alaihiWasalam bersabda :

      Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya.” Muttafaq Alaihi.

      Pada hadist yang lain, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi Wasalam bersabda yang artinya : ” Jika seorang diantara kalian mendengar adzan, sedangkan bejana ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sebelum mewujudkan kehendaknya. ” ( HR Hakim).

*) Berbuka dan menyegerakannya

عن سهل بن سعد – رضي عنهما – أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ((لا يزال الناس بخير ما عجل الفطر)) متفق عليه

Dari Sahal bin Sa’d –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaqun Alaihi)

*) Berdo’a, terutama pada saat berbuka

Do’a yang tidak tertolak ini adalah ketika waktu engkau berbuka berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda,

“Artinya : Tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya : orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil dan do’anya orang yang didhalimi”
(Hadits Riwayat Tirmidzi (2528), Ibnu Majah (1752), Ibnu Hibban (2407) ada jahalah Abu Mudillah).

Dari Abdulah bin Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda,
“Artinya : Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memiliki doa yang tidak akan ditolak”

(Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557), Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128), Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata : (2/81) ini sanad yang shahih, perawi-perawinya tsiqat).

2. Menghidupkan Malam dengan Shalat (Qiyam Ramadhan).

Ramadhan disamping disebut dengan Syahrus Shiyam juga disebut dengan Syahrul Qiyam . Hal tersebut karena adanya perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalam untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan sholat malam yang kemudian disebut dengan istilah shalat tarawih.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)
Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290)
Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Lihat Fathul Bari, 6/290)
Kedua, shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh.
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).  Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.
Ketiga, shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat.
Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjama’ah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633)
Apa Hukum Sholat Tarawih, dan apakah harus dilakukan secara jamaah di masjid?
Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam menganjurkan agar kita menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak shalay. Hal itu antara lain dapat terpenuhi dengan mendirikan shalat tarawih di sepanjang malamnya.
Fakta adanya pemberlakuan shalat tarawih secara turun temurun sejak Nabi Shalallalhu ‘alaihi Wasalam hingga sekarang merupakan dalil yang tidak dapat dibantah mengenai persyariatannya. Oleh karenanya para ulama menyatakan konsensus (ijma’) dalam hal tersebut.
Pada awalnya sholat tarawih dilaksankan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam dengan sebagian sahabat secara berjamaah di masjid Nabawi. Namun setelah berjalan tiga malam, Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam membiarkan para sahabat melakukan shalat tarawih secara sendiri-sendiri, sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (yang artinya): ” suatu saat di tengah malam Rasululllah Shalallahu ‘alaihi Wasalam keluar untuk sholat di masjid, maka beberapa sahabat pun bermakmum kepada beliau. Berita tersebut kemudian  menjadi pembicaraan diantara para sahabat di pagi hari, sehingga pada malam kedua jumlah sahabat yang bermakmum kepada Rasululllah Shalallahu ‘alaihi Wasalam bertambah lebih banyak dari sebelumnya. Berita tersebut kemudian menjadi pembicaraan diantara sahabat, sehingga pada malam yang ketiga jumlah yang bermakmum pun bertambah banyak lagi. Ketiga jumlah jamaah pada malam keempat bertambah sampai masjid tidak dapat menampungnya, Rasululllah  Shalallalhu ‘alaihi Wasalam pun tidak keluar untuk mengimami shalat di malam tersebut hingga keluar untuk shalat shubuh. Kemudian setelah selesai shalat shubuh, Rasulullah Shalallalhu ‘alaihi Wasalam menghadap kepada para sahabat dan bersabda (yang artinya) :” Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk shalat bersama kalian, akan tetapi aku khawatir jangan-jangan akan dianggap sebagai kewajiban, dan kalian tidak sanggup untuk melaksanakannya.”
Hingga di kemudian hari Umar bin Khattab  menyaksikan adanya fenomena shalat tarawih yang terpencar-pencar di masjid Nabawi , terbesit dalam pikiran beliau untuk menyatukannya sehingga terbentuklah shalat tarawih berjamaah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad-Dari, sebagaimana terekan dalam hadist (Al-Lu’Lu’ wal marjan :436). Dari sini mayoritas ulama menetapkan sunnahnya shalat tarawih secara berjamaah (lihat Syarh Shahih Muslim oleh Nawawi :6/39).
Berapa jumlah Rakaat shalat Tarawih?
Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha“Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738).
Adapun pada masa sahabat, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan tidak ada lagi kekhawatiran akan anggapan wajibnya shalat tarawih, Umar bin Khattab menghimpun umat islam untuk shalat tarawih dengan berjamaah dengan menunjuk Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad Dari untuk menjadi imam. Dan ternyata Ubay dan Tamim mengimami shalat dengan jumlah 21 rakaat dan 23 raka’at. Riwayat 21 raka’at terdapat dalam Mushanaf Abdur Rozaq, sedangkan riwayat 23 raka’at terdapat dalam Sunan Baihaqi. Keduanya dengan sanad yang shahih.
Lalu Bagaimana kita menyikapinya?
Ibnu Hajar ‘Asqalani berkata : “Sesungguhnya perbedaan jumlah raka’at tersebut adalah perbedaaan variatif sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Di satu waktu mereka shalat 11 raka’at, di waktu lain mereka shalat 23 raka’at, sesuai dengan semangat dan kemampuan mereka. Apabila mereka shalat 11 raka’at, mereke shalat dengan sangat panjang sehingga mereka bertumpu pada tongkat. Dan apabila mereka shalat 23 raka’at, mereka shalat dengan bacaan yang pendek sehingga tidak memberatkan jamaah”.
Mayoritas ulama termasuk empat imam madzabh-berpendapat bahwa shalat malam/tarawih, termasuk shalat sunnah yang tidak ada batas maksimal jumlah raka’atnya, meskipun sebagian mengatakan bahwa ada jumlah raka’at tertentu yang lebih utama daripada jumlah yang lin.
Sesungguhnya persatuan, kebersamaan, kelembutan hati, dan kesucian hati adalah tujuan dari disyariatkannya ibadah-termasuk shalat yang disepakati paran ulama, sementara jumlah raka’at tarawih adalah hal yang diperselisihkan. Untuk itu semestinya kita harus lebih mengedepankan kebersamaan dan persatuan-yang merupakan tujuan dari shalat-daripada sibuk saling berbantah tentang jumlah raka’at tarawih-yang masih diperselisihkan-yang karenanya justru berpotensi memunculkan perpecahan dan perasaan saling membenci.
Justru yang kita lakuakan semestinya adalah bagaimana kita berupaya untuk membantu saudara-saudara kita yang belum mau shalat agar mau shalat bersama kita.

3. Berinfak,bershadaqoh, dan memberi buka

Berinfak,bershadaqoh, dan memberi buka kepada orang yang berpuasa terutama di bulan Ramadhan adalah bentuk amal yang dijanjikan pahala besar, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) :” “Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Tirmidzi dari Anas).

 Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh terbaik  dalam hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadist berdasarkan riwayat Ibnu Abbas t, ia berkata:“Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan …(HR. al-Bukhari)Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun.” (HR. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)

Dan dalam hadits Salman Radhiyallahu ‘Anhu, “Siapa yang memberi makan orang puasa di dalam bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya, dibebaskan dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya.”

4. Banyak membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah amal yang diperintahkan untuk dilakukan setiap muslim setiap hari dan lebih ditekankan lagi pada bulan ramadhan, hal tersebut karena Ramdhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an dan pada setiap Ramadhan malaikat Jibril senantiasa datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk bertadarrus Al-Qur’an bersamanya.

Dan membaca Al-Qur’an adalah aktivitas yang senantiasa menguntungkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Faathir ayat 29-30 :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Artinya:
29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
30. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri[1].

5. Bertaubat

Bulan Ramadhan adaalah waktu yang sangat tepat untuk memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena banyaknya  ampunan yang Allah berikan kepada hamba-Nya pada bulan tersebut. Bahkan pada bulan Ramadhan ini, banyak orang akan Allah bebaskan dari api neraka, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya : “Sesungguhnya pada setiap malam dari bulan Ramadhan, Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari neraka.” (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)

Dan syarat-syarat taubat adalah sebagai berikut :

1. Segera meninggalkan perbuatan dosa.

2. Menyesal atas dosa yang dilakukan.

3. Bertekat untuk tidak mengulangi kembali

4. Taubat tersebut dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah

5. Dilakukan sebelum pintu taubat tertutup, yakni sebelum datangnya ajal

6. Apabila dosa atau kesalahan berkaitan dengan sesama manusia, maka harus diupayakan untuk diselesaikan.

6. Memperhatikan aktivitas sosial dan dakwah

Banyak aktivitas sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas yang bisa kita lakukan terutama selama bulan Ramadhan, misalnya menyelenggarakan bakti sosial di daerah-daerah yang membutuhkan (daerah bencana dan pemukiman miskin  misalnya) dengan memberikan santunan berupa makanan, pakaian, kesehatan atau yang lainnya yang memang mereka butuhkan.

7. Meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan sabdanya :

Carilah lailatul qadar pada tujuh malam terakhir (HR. Muslim)


الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

Carilah ia -lailatul qadar- di sepuluh akhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Sudah terbiasa membuang sampah di sembarang tempat ?

Untuk kedua kalinya saya membahas masalah membuang sampah. Mungkin membuang sampah bagi sebagian orang dianggap sebagai hal yang sepele.  Tapi tidak demikian bagi saya. Karena semua yang besar itu berawal dari yang kecil. Kalau hal yang paling sepele, hal yang paling ringan, hal yang paling kecil tidak bisa kita lakukan, bagaimana bisa hal itu menjadi besar. Orang bisa sukses tentu berawal dari kecil juga khan…..

Seperti pengalaman saya pagi hari ini ketika mengikuti jalan sehat yang diselenggarakan oleh PKS kota Malang dalam rangka memperingati Milad PKS yang ke -14 dan mensosialisasikan Bpk Arif HS sebagai Cawali kota Malang dari PKS. Semua peserta diminta MC untuk mengumpulkan sampah pada tempatnya, paling tidak sampah terkumpul jadi satu agar panitia atau orang yang ditugaskan untuk membersihkan sampah nantinya lebih gampang. Tetapi yah mungkin sudah menjadi karakter rakyat kali ya, ada saja yang membuang sampah disana sini. Duh….susaah banget ya mengkoordinir banyak orang itu. Ini baru berapa ratus orang kalau mengkoordinir satu negara? Itulah mengapa menjadi pemimpin itu tidak mudah. Perlu ilmu dan keteladanan yang harus diperlihatkan oleh para calon pemimpin dimanapun itu. Lead by excample, itu motto yang tepat menurut saya.

Setelah acara tersebut usai, saya pun bergegas untuk pulang karena ada dua agenda yang menanti dirumah. Sesampai di Jl Raya Bugis, tepat dihadapan saya ada sebuah mobil Toyota Kijang Innova bernopol N xxxx WU dan bertuliskan kalimat Syahadat di kaca bagian belakang mobil tersebut. Keren banget mobil ini pikirku. Tak lama setelah itu kaca mobil bagian depan sebelah kiri dibuka oleh pengendara mobil tersebut. Dan apa yang ia lakukan? Dia membuang tissue keluar jendela begitu saja.  Sayapun jadi geleng-geleng kepala. Apa yang  naik mobil tersebut tidak malu pada tulisan di mobilnya kali ya….

Saya pun penasaran jadi pengen tahu tampang orang yang ada di mobil tersebut, apalagi yang membuang tissue tadi. Saya melacu dengan sepeda motor Spacy helmin dengan lebih kencang sehingga bisa berada di mobil itu. Saya menoleh ke kanan, eh yang membuang tissue tadi seorang wanita berjilbab dan lumayan cantik juga. Tapi sayang sekali perilakunya nggak cantik.

Apa mungkin membuang sampah sembarangan di jalan raya sudah menjadi hal yang wajar dan memang nggak aneh di jaman sekarang ini ya?

Itu pengalaman saya hari ini. Bagaimana dengan anda?

Memaknai Sekelumit Perjalanan Hidup

this way

Terkadang kita mungkin berpikir, kenapa saya mesti hidup seperti ini, mengapa saya harus sakit, mengapa saya harus tidak lulus tes itu, mengapa saya harus menikah dengan orang ini. Mengapa, kenapa, dan bagaimana mungkin saya menjalani ini semua….

Terkadang kita menginginkan hal itu tapi kenapa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kenapa dan mengapa?

Inilah yang namanya hidup. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah lebih tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Mungkin apa yang kita anggap baik untuk kita tapi menurut Allah itu tidak baik untuk kita.

Itulah yang ingin saya tulis kali ini. Ini adalah muhasabah yang saya tulis sebelum malam ini saya beristirahat.

Saya dulu adalah anak yang manja. Terutama kepada Bapak saya. Mungkin hal ini bukanlah hal yang aneh, karena saya adalah anak perempuan satu-satunya diantara tiga bersaudara. Kakak dan adik saya adalah laki-laki. Bapak saya dulu sering bekerja di luar kota. Sehingga jika pulang membawa oleh-oleh, pasti saya mendapat giliran pertama kali memilih oleh-oleh yang Bapak bawa. Dan hal itu berlangsung sampai saya lulus SMA. Bapak saya selalu memanjakan saya melebihi saudara saya yang lain.

Ketika saya kuliah saya harus tinggal berjauhan dari kedua orang tua saya. Teman-teman saya waktu kuliah, terutama sahabat saya, Intan pasti menganggap saya ini anak yang manja. Mulai dari perilaku dan cara bicara yang orang jawa mengatakan dengan sebutan “ngalem“.

Mulailah saya dengan memasuki dunia yang sebenarnya. Dunia yang harus saya hadapi dengan penuh perjuangan dan penuh tangis air mata. Begitu ada pengumuman bahwa saya lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), yang  sebenarnya tidak saya  inginkan, saya dimasukkan ke pondok pesantren oleh kakak saya dan disini harus mengenakan jilbab. Mulailah saya waktu itu dengan terpaksa  harus mengenakan jilbab. Sebenarnya jauh di lubuk hati saya, saya ingin kuliah di UNDIP bersama kakak kelas yang kebetulan kita dekat  sejak saya kelas satu SMA. Tetapi kenyataan mengatakan lain, saya dipaksa Bapak saya harus kuliah di UNS karena kakak saya juga alumni dari UNS dan tinggal di Solo. Alasan Bapak  agar saya ada yang menjaga dan mengawasi saya selama saya kuliah.

Sekitar satu bulan pertama selama tinggal di Pondok Pesantren saya sering menangis dan saya juga nggak pernah mau makan dari Pondok Pesantren itu. Saya jarang sekali makan. Hingga akhirnya saya terkena magg dan jatuh sakit. Setiap malam saya mengantri di Telepon umum di dalam Pondok Pesantren itu untuk bisa menghubungi kakak saya. Saya setiap hari hanya menangis ketika menelepon kakak saya dan mengatakan kalau saya tidak betah tinggal disitu.  Alasan saya saat itu karena tinggal di pondok tidak bisa bebas, penuh aturan, bedak saya sering hilang, baju ketat kesayangan saya hilang, celana jeans hilang dan lain-lain yang menurut saya waktu itu tidak nyaman bagi saya.

Berlanjut ketika saya pindah ngekost di sekitar kampus UNS. Saya sering banget sakit atau bisa dibilang sakit-sakit-an. Entah itu karena penyakit bawaan yang sering sesak nafas, pernah karena kecelakaan waktu OSPEK, kecelakaan karena tabrak lari sampai masuk koran dan sebagainya yang membuat saya terus mengeluh.

Setelah menikah saya juga pernah merasakan hampir tiga hari saya tidak makan sama sekali dan hanya bisa minum teh. Karena waktu itu suami benar-benar tidak mempunyai uang. Saat itu-pun saya tengah hamil. Ketika pergi kemana-pun kita hanya bisa jalan kaki.

Berpindah ke Malang, karena suami ternyata harus dipindah oleh Boss nya untuk bekerja di kantor Malang. Tinggal di rumah kontrakan di lantai atas. Lantai bawah ditempati oleh yang punya rumah.  Anak saya pindah ke Malang saat itu baru berusia hampir tiga bulan. Beberapa bulan kemudian saya ternyata hampir lagi. Mengetahui hal ini saya hanya bisa menangis mengapa saya harus hamil lagi, padahal anak saya masih bayi, belum bisa apa-apa, masih saya gendong. Kesedihan saya terus bertambah sewaktu masak. Karena dapur di lantai satu bebarengan dengan pemilik rumah.  Saya harus naik turun tangga dan menggendong anak saya jika ingin memasak.

Mungkin karena tenaga saya yang terus terforsir dan kecapekan saya  dilarikan di Rumah Sakit untuk ditangani Dokter. Setelah diberi penjelasa oleh Dokter kalau ternyata saya sudah pembukaan 1.  Kalaupun saat itu harus melahirkan jelas hal yang mustahil, karena berat bayi baru 0,75 Kg. Saya harus bedrest dan harus menjalani rawat inap di Rumah sakit sampai kondisi benar-benar memungkinkan. Bagaimana nasib anak saya? Siapa yang akan merawatnya? Suami juga harus tetap bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang paksa. Dengan oleh-oleh obat yang harus dimasukkan dari (maaf bagian belakang /anus). Yang masyaAllah sakitnya luar biasa. Itu dilakukan agar kandungan tidak sakit seperti bayi kontraksi mau keluar.

Dan waktupun terus berjalan. Sekarang alhamdulillah kehidupan saya dan suami jauh lebih baik dari semua yang saya ceritakan di atas.

Ibrah yang bisa saya petik selama perjalanan hidup saya sebelum saya menulis kisah ini :

1. Mungkin kalau ayah saya tidak memaksa saya untuk kuliah di SOLO (UNS) saya tidak tahu apa yang bisa saya dapatkan sekarang. Mungkin saja kehidupan saya bisa menyimpang dari kehidupan islami yang bisa saya rasakan sekarang.

2. JIka kakak saya tidak memaksa saya untuk tinggal di Pondok pesantren saya mungkin tidak mengenal hijab atau mungkin saya tidak mengenakan jilbab.  Seperti apa yang sudah Allah perintahkan, dan hendaknya semua wanita muslim mengulurkan jilbabnya. Artinya semua wanita yang mengaku umat muslim seharusnya lah memakai jilbab.

3. Di pondok Pesantren inilah saya bisa mengenal islam lebih baik., juga perbedaan dalam masalah khilafiyah islam. Di sini saya juga mengenal yang namanya kemandirian, kesederhanaan, dan kebersamaan.

4. Saya sering sakit saat kuliah, mungkin Allah ingin mengajarkan saya  agar bisa mensyukuri yang namanya sehat. Sehat itu adalah nikmat yang tidak bisa bisa kita hitung. Saya sering teringat kita tiba-tiba terbangun di Rumah Sakit dengan selang oksigen, dimana oksigen di Rumah Sakit sangat mahal harganya. Bersyukurlah kita masih bisa bernafas dengan gratis.

5. Ketika saya tinggal di Surabaya dan pernah tidak makan sama sekali dan hanya minum saja, itulah ujian dari Allah. Allah mungkin ingin menunjukkan Kuasa-Nya dan kasih sayang-Nya. Hamba Allah tidak akan mati sebelum habis rejekinya. Allah akan memberikan rizki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Asalkan hamba Allah itu mau bertawakal dan berikhtiar.

6. Dengan melewati semua ini, saya bisa lebih tegar, lebih mandiri dan bisa lebih memaknai arti dari hidup.

Mungkin inilah cara Allah untuk menjadikan saya menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Dan dengan pertolongan Allah semata saya bisa melalui semua ini.

Semoga sedikit cerita saya bisa menginspirasi banyak orang. Yakinlah hidup itu akan indah dan bermakna jika kita bisa memaknainya dan bisa melewati semua ujian hidup ini dengan sabar,  berikhtiar dan bertawakal.

Itu cerita saya, bagaimana dengan anda ?

Masa Muda

Masa Muda.
Dua kata yang teramat dalam makna dan penuh dengan tanda tanya. Itu menurut saya pribadi. Bagaimana menurut anda?  Menurut banyak orang masa muda adalah masa dimana untuk foya-foya.  Ada sebagian orang yang mengatakan “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga”. Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya tanpa berbuat kebaikan, tanpa melakukan amal soleh bisa masuk surga ?.  Tentu ini adalah hal yang sangat mustahil.

Masa muda harus dilalui dengan kerja keras dan juga kerja cerdas jika ingin tua kaya raya. Hidup ini penuh perjuangan. Hidup harus dilalui dengan berkarya dan terus berkarya. Siapa yang ingin menuai hasilnya tentu  harus menanam terlebih dahulu.  Jika hasilnya ingin baik tentu harus menanam benih dengan baik.

Nasyid dari Edcoustic bisa menjadi inspirasi bagi anda yang suka dengan nasyid.

Masa muda usiaku kini
Warna hidup tinggal kupilih
Namun aku telah putuskan
Hidup diatas kebenaran
Reff :
Masa muda penuh karya untukMu Tuhan
Yang aku persembahkan sbagai insan beriman
Mumpung muda ku tak berhenti menapak cita
Menuju negeri syurga yang nun jauh disana
Kini jelas tiap langkahku
Illahi jadi tujuanku
Apapun yang aku lakukan
Islam slalu jadi pegangan

Dan maju mundurnya suatu negara juga bisa ditentukan dari anak muda dari negara tersebut. Bagaimana mungkin suatu negara bisa maju jika anak muda di negara tersebut hanya hidup dengan foya-foya saja tanpa berkarya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia.

Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)

Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)

Manfaatkanlah Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tuamu

Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.”

Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”

Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: “Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al Munawi mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Orang yang Beramal di Waktu Muda Akan Bermanfaat untuk Waktu Tuanya

Dalam surat At Tiin, Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin [95]: 4-6)

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)
Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Ibnu Katsir mengatakan, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)

Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan.

Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.

Daud Ath Tho’i mengatakan,

إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك

Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)

Semoga maksud kami dalam tulisan ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanyya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11]: 88)

Allah memberikan hak kepada hamba-Nya ingin surga ataukah neraka, dan semua telah diatur-Nya. Apakah masih ingin tetap foya-foya? Kemanakah masa mudamu akan Engkau habiskan? Hanya diri kita  sendiri yang bisa menjawabnya.
Semoga Allah selalu menuntun kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan jalan yang diridhoi-Nya.
Sumber: