Arsip

Amaliyah Selama Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling istimewa.  Pada bulan Ramadhan ini Allah Subhanahu Wa ta’ala akan melipat gandakan pahala ibadah. Bagi ibadah sunnah, Allah akan melimpahkan pahala setara dengan ibadah wajib. Dan untuk ibadah wajib, Allah akan melipatgandakan pahalanya sebesar 70 kali lipat setiap amal. Maka sudah seharusnya kita bisa menggunakan momentum ini dengan sebaik-baiknya, dengan berlomba-lomba mengerjakan amal kebaikan di Bulan yang berkah ini.

Diantara amaliyah selama Ramadhan yang semestinya kita lakukan adalah sebagai berikut :

1. Berpuasa

Puasa adalah amaliyah terpenting dan teristimewa dalam Bulan Ramadhan, karena ia bisa berfungsi sebagai sarana penghapus dosa,di samping ia adalah amal yang tidak ada bandingnya disebabkan karena kebaikannya akan dilipatgandakan dengan kelipatan yang tidak terhingga. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَعْقُوبَ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجَاءُ بْنُ حَيْوَةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مُرْنِي بِأَمْرٍ آخُذُهُ عَنْكَ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ali dari ‘Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Abdullah bin Abu Ya’qub dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Raja’ bin Haiwah dari Abu Umamah dia berkata; Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata; “Perintahlah aku dengan suatu perintah dimana aku bisa mengambilnya dari engkau.” Beliau bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa, karena ia tidak ada bandingannya.” (HR Nasa’i)

Dan agar kebaikan -kebaikan puasa tersebut bisa kita raih secara optimal, maka hendaknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

*) Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui serta menjaga rambu-rambunya.

*) Bersungguh-sunggguh melakukan puasa dengan menepati aturan-aturannya.

*) menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai puasa, seperti perbuatan sia-sia dan perbuatan haram.

*) Tidak meninggalkan puasa dengan sengaja walaupun sehari.

*) Makan sahur dan men-ta’khir-kannya . Rasululllah Shalallaahu ‘alaihiWasalam bersabda :

      Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya.” Muttafaq Alaihi.

      Pada hadist yang lain, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi Wasalam bersabda yang artinya : ” Jika seorang diantara kalian mendengar adzan, sedangkan bejana ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sebelum mewujudkan kehendaknya. ” ( HR Hakim).

*) Berbuka dan menyegerakannya

عن سهل بن سعد – رضي عنهما – أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ((لا يزال الناس بخير ما عجل الفطر)) متفق عليه

Dari Sahal bin Sa’d –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaqun Alaihi)

*) Berdo’a, terutama pada saat berbuka

Do’a yang tidak tertolak ini adalah ketika waktu engkau berbuka berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda,

“Artinya : Tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya : orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil dan do’anya orang yang didhalimi”
(Hadits Riwayat Tirmidzi (2528), Ibnu Majah (1752), Ibnu Hibban (2407) ada jahalah Abu Mudillah).

Dari Abdulah bin Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda,
“Artinya : Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memiliki doa yang tidak akan ditolak”

(Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557), Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128), Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata : (2/81) ini sanad yang shahih, perawi-perawinya tsiqat).

2. Menghidupkan Malam dengan Shalat (Qiyam Ramadhan).

Ramadhan disamping disebut dengan Syahrus Shiyam juga disebut dengan Syahrul Qiyam . Hal tersebut karena adanya perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalam untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan sholat malam yang kemudian disebut dengan istilah shalat tarawih.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)
Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290)
Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Lihat Fathul Bari, 6/290)
Kedua, shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh.
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).  Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.
Ketiga, shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat.
Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjama’ah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633)
Apa Hukum Sholat Tarawih, dan apakah harus dilakukan secara jamaah di masjid?
Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam menganjurkan agar kita menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak shalay. Hal itu antara lain dapat terpenuhi dengan mendirikan shalat tarawih di sepanjang malamnya.
Fakta adanya pemberlakuan shalat tarawih secara turun temurun sejak Nabi Shalallalhu ‘alaihi Wasalam hingga sekarang merupakan dalil yang tidak dapat dibantah mengenai persyariatannya. Oleh karenanya para ulama menyatakan konsensus (ijma’) dalam hal tersebut.
Pada awalnya sholat tarawih dilaksankan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam dengan sebagian sahabat secara berjamaah di masjid Nabawi. Namun setelah berjalan tiga malam, Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasalam membiarkan para sahabat melakukan shalat tarawih secara sendiri-sendiri, sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (yang artinya): ” suatu saat di tengah malam Rasululllah Shalallahu ‘alaihi Wasalam keluar untuk sholat di masjid, maka beberapa sahabat pun bermakmum kepada beliau. Berita tersebut kemudian  menjadi pembicaraan diantara para sahabat di pagi hari, sehingga pada malam kedua jumlah sahabat yang bermakmum kepada Rasululllah Shalallahu ‘alaihi Wasalam bertambah lebih banyak dari sebelumnya. Berita tersebut kemudian menjadi pembicaraan diantara sahabat, sehingga pada malam yang ketiga jumlah yang bermakmum pun bertambah banyak lagi. Ketiga jumlah jamaah pada malam keempat bertambah sampai masjid tidak dapat menampungnya, Rasululllah  Shalallalhu ‘alaihi Wasalam pun tidak keluar untuk mengimami shalat di malam tersebut hingga keluar untuk shalat shubuh. Kemudian setelah selesai shalat shubuh, Rasulullah Shalallalhu ‘alaihi Wasalam menghadap kepada para sahabat dan bersabda (yang artinya) :” Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk shalat bersama kalian, akan tetapi aku khawatir jangan-jangan akan dianggap sebagai kewajiban, dan kalian tidak sanggup untuk melaksanakannya.”
Hingga di kemudian hari Umar bin Khattab  menyaksikan adanya fenomena shalat tarawih yang terpencar-pencar di masjid Nabawi , terbesit dalam pikiran beliau untuk menyatukannya sehingga terbentuklah shalat tarawih berjamaah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad-Dari, sebagaimana terekan dalam hadist (Al-Lu’Lu’ wal marjan :436). Dari sini mayoritas ulama menetapkan sunnahnya shalat tarawih secara berjamaah (lihat Syarh Shahih Muslim oleh Nawawi :6/39).
Berapa jumlah Rakaat shalat Tarawih?
Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha“Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738).
Adapun pada masa sahabat, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan tidak ada lagi kekhawatiran akan anggapan wajibnya shalat tarawih, Umar bin Khattab menghimpun umat islam untuk shalat tarawih dengan berjamaah dengan menunjuk Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad Dari untuk menjadi imam. Dan ternyata Ubay dan Tamim mengimami shalat dengan jumlah 21 rakaat dan 23 raka’at. Riwayat 21 raka’at terdapat dalam Mushanaf Abdur Rozaq, sedangkan riwayat 23 raka’at terdapat dalam Sunan Baihaqi. Keduanya dengan sanad yang shahih.
Lalu Bagaimana kita menyikapinya?
Ibnu Hajar ‘Asqalani berkata : “Sesungguhnya perbedaan jumlah raka’at tersebut adalah perbedaaan variatif sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Di satu waktu mereka shalat 11 raka’at, di waktu lain mereka shalat 23 raka’at, sesuai dengan semangat dan kemampuan mereka. Apabila mereka shalat 11 raka’at, mereke shalat dengan sangat panjang sehingga mereka bertumpu pada tongkat. Dan apabila mereka shalat 23 raka’at, mereka shalat dengan bacaan yang pendek sehingga tidak memberatkan jamaah”.
Mayoritas ulama termasuk empat imam madzabh-berpendapat bahwa shalat malam/tarawih, termasuk shalat sunnah yang tidak ada batas maksimal jumlah raka’atnya, meskipun sebagian mengatakan bahwa ada jumlah raka’at tertentu yang lebih utama daripada jumlah yang lin.
Sesungguhnya persatuan, kebersamaan, kelembutan hati, dan kesucian hati adalah tujuan dari disyariatkannya ibadah-termasuk shalat yang disepakati paran ulama, sementara jumlah raka’at tarawih adalah hal yang diperselisihkan. Untuk itu semestinya kita harus lebih mengedepankan kebersamaan dan persatuan-yang merupakan tujuan dari shalat-daripada sibuk saling berbantah tentang jumlah raka’at tarawih-yang masih diperselisihkan-yang karenanya justru berpotensi memunculkan perpecahan dan perasaan saling membenci.
Justru yang kita lakuakan semestinya adalah bagaimana kita berupaya untuk membantu saudara-saudara kita yang belum mau shalat agar mau shalat bersama kita.

3. Berinfak,bershadaqoh, dan memberi buka

Berinfak,bershadaqoh, dan memberi buka kepada orang yang berpuasa terutama di bulan Ramadhan adalah bentuk amal yang dijanjikan pahala besar, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) :” “Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Tirmidzi dari Anas).

 Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh terbaik  dalam hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadist berdasarkan riwayat Ibnu Abbas t, ia berkata:“Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan …(HR. al-Bukhari)Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun.” (HR. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)

Dan dalam hadits Salman Radhiyallahu ‘Anhu, “Siapa yang memberi makan orang puasa di dalam bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya, dibebaskan dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya.”

4. Banyak membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah amal yang diperintahkan untuk dilakukan setiap muslim setiap hari dan lebih ditekankan lagi pada bulan ramadhan, hal tersebut karena Ramdhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an dan pada setiap Ramadhan malaikat Jibril senantiasa datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk bertadarrus Al-Qur’an bersamanya.

Dan membaca Al-Qur’an adalah aktivitas yang senantiasa menguntungkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Faathir ayat 29-30 :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Artinya:
29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
30. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri[1].

5. Bertaubat

Bulan Ramadhan adaalah waktu yang sangat tepat untuk memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena banyaknya  ampunan yang Allah berikan kepada hamba-Nya pada bulan tersebut. Bahkan pada bulan Ramadhan ini, banyak orang akan Allah bebaskan dari api neraka, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya : “Sesungguhnya pada setiap malam dari bulan Ramadhan, Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari neraka.” (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)

Dan syarat-syarat taubat adalah sebagai berikut :

1. Segera meninggalkan perbuatan dosa.

2. Menyesal atas dosa yang dilakukan.

3. Bertekat untuk tidak mengulangi kembali

4. Taubat tersebut dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah

5. Dilakukan sebelum pintu taubat tertutup, yakni sebelum datangnya ajal

6. Apabila dosa atau kesalahan berkaitan dengan sesama manusia, maka harus diupayakan untuk diselesaikan.

6. Memperhatikan aktivitas sosial dan dakwah

Banyak aktivitas sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas yang bisa kita lakukan terutama selama bulan Ramadhan, misalnya menyelenggarakan bakti sosial di daerah-daerah yang membutuhkan (daerah bencana dan pemukiman miskin  misalnya) dengan memberikan santunan berupa makanan, pakaian, kesehatan atau yang lainnya yang memang mereka butuhkan.

7. Meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan sabdanya :

Carilah lailatul qadar pada tujuh malam terakhir (HR. Muslim)


الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

Carilah ia -lailatul qadar- di sepuluh akhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Iklan

Hal-hal Yang Membatalkan Puasa

Adapun hal-hal yang bisa membatalkan puasa adalah sebagai berikut:

1. Makan dan minum dengan sengaja.

Jika makan dan minum tersebut tidak disengaja, maka tidak membatalkan puasa. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ” Barangsiapa yang terlupa sedangkan ia berpuas, kemudian ia makan atau  minum, maka hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah.” (HR Jama’ah)

2. Muntah dengan sengaja.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ” “Barang siapa yang muntah dengan  tidak disengaja, maka tidak diwajibkan mengqodho’ dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib baginya untuk mengganti puasanya (mengqodho’.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa’ no. 930)

3.Istimna’ (onani/masturbasi), yaitu mengeluarkan mani dengan sengaja

4. Haidh dan Nifas

5. Berhubungan suami istri (Berjimak)

Keutamaan Puasa dan Bulan Ramadhan

Beberapa keutamaan dari Berpuasa sebagai berikut:

1. Puasa adalah sarana pengendali syahwat.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Wahai  para pemuda, jika  diantara kalian telah mampu untuk menikah maka menikahlah,  karena dengan menikah ia akan lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan lebih mampu untuk menjaga kemaluan. Namun jika  belum mampu menikah  maka hendaknya ia  berpuasa, karena puasa itu obat.” HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Masud.

2. Puasa adalah sarana penghapus dosa.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan  semata-mata mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu .” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Puasa adalah sarana untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Bagi seorang yang berpuasa ada dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. ” (HR Bukhari dan Muslim)

4. Puasa akan menjadi pemberi syafaat bagi pelakunya di hari kiamat.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda  “Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang  hamba di hari kiamat . ” (HR Hakim)

5. Puasa adalah perisai dari api neraka.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “ “Puasa adalah perisai yang dengannya seseorang akan membentengi dirinya  dari  neraka”. (HR.Thabrani).

6. Puada adalah ibadah yang tidak ada tandingannya .

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Umamah : “Berpuasalah anda, sesungguhnya puada adalah ibadah yang tidak tertandingi. ” (HR Nasa’i)

7. Pada setiap Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda ,” Jika datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta syetan-syetan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim)

8. Pada salah satu malam Ramadhan ada Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Qadr.

9. Besarnya potensi terkabulkannya do’a di bulan Ramadhan.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda ,” Bagi setiap muslim ada do’a yang terkabul yang dilakukkannya di bulan Ramadhan. ” ( HR Malik dan Ahmad)

10. Malam Ramadhan adalah malam pembebasan dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : ” Pada setiap malam di bulan Ramadhan Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari neraka . ” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Referensi :

Panduan Ibadah Ramadhan, IKADI Kota Malang, 2012

Masa Muda

Masa Muda.
Dua kata yang teramat dalam makna dan penuh dengan tanda tanya. Itu menurut saya pribadi. Bagaimana menurut anda?  Menurut banyak orang masa muda adalah masa dimana untuk foya-foya.  Ada sebagian orang yang mengatakan “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga”. Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya tanpa berbuat kebaikan, tanpa melakukan amal soleh bisa masuk surga ?.  Tentu ini adalah hal yang sangat mustahil.

Masa muda harus dilalui dengan kerja keras dan juga kerja cerdas jika ingin tua kaya raya. Hidup ini penuh perjuangan. Hidup harus dilalui dengan berkarya dan terus berkarya. Siapa yang ingin menuai hasilnya tentu  harus menanam terlebih dahulu.  Jika hasilnya ingin baik tentu harus menanam benih dengan baik.

Nasyid dari Edcoustic bisa menjadi inspirasi bagi anda yang suka dengan nasyid.

Masa muda usiaku kini
Warna hidup tinggal kupilih
Namun aku telah putuskan
Hidup diatas kebenaran
Reff :
Masa muda penuh karya untukMu Tuhan
Yang aku persembahkan sbagai insan beriman
Mumpung muda ku tak berhenti menapak cita
Menuju negeri syurga yang nun jauh disana
Kini jelas tiap langkahku
Illahi jadi tujuanku
Apapun yang aku lakukan
Islam slalu jadi pegangan

Dan maju mundurnya suatu negara juga bisa ditentukan dari anak muda dari negara tersebut. Bagaimana mungkin suatu negara bisa maju jika anak muda di negara tersebut hanya hidup dengan foya-foya saja tanpa berkarya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia.

Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)

Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)

Manfaatkanlah Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tuamu

Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.”

Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”

Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: “Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al Munawi mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Orang yang Beramal di Waktu Muda Akan Bermanfaat untuk Waktu Tuanya

Dalam surat At Tiin, Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin [95]: 4-6)

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)
Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Ibnu Katsir mengatakan, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)

Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan.

Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.

Daud Ath Tho’i mengatakan,

إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك

Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)

Semoga maksud kami dalam tulisan ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanyya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11]: 88)

Allah memberikan hak kepada hamba-Nya ingin surga ataukah neraka, dan semua telah diatur-Nya. Apakah masih ingin tetap foya-foya? Kemanakah masa mudamu akan Engkau habiskan? Hanya diri kita  sendiri yang bisa menjawabnya.
Semoga Allah selalu menuntun kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan jalan yang diridhoi-Nya.
Sumber:

HADITS DAN RIWAYAT PALSU DI SEBAGIAN PENGAJIAN

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

AL-QUR’AN DAN SUNNAH ADALAH SUMBER PERBAIKAN HATI
Kita, kaum muslimin, harusnya tidak menulis, atau tidak menyampaikan ceramah maupun khutbah, kecuali berisi ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih dan kisah-kisah yang benar. Tidak perlu membawakan hadits-hadits yang dha’if (lemah), maudhu dan kisah-kisah batil. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan.

“…Maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya” [Al-Jatsiyah : 6]

Maksudnya, barangsiapa tidak mengimani Al-Qur’an dan Sunnah, tidak terobati hatinya dengan Al-Qur’an dan Sunnah, niscaya tidak akan pernah memperoleh penawar dengan apapun. Apakah seseorang bisa membenahi hatinya dengan kisah-kisah yang berderajat lemah dan palsu?

Memang, terkadang cerita-cerita palsu bisa mengguratkan pengaruh bagus kepada pendengarnya. Akan tetapi, hanya bersifat temporer (sementara) saja. Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah mendengarkan ceramah dari orang yang beliau kagumi gaya bicaranya. Ia seorang penceramah ulung. Ia membawakan hadits-hadits lemah dan palsu dengan cara yang sangat menarik. Ternyata, beliau tersentuh, sampai menangis saat menyimaknya, meski mengetahui kisah itu palsu. Demikianlah tabiat hati manusia, rentan terpana oleh cerita-cerita yang mengharukan. Baca lebih lanjut